Ikan Masapi, Sumpah Sakral Leluhur Bugis-Makassar

  • 25 Feb 2026 12:03 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kepercayaan tradisional terhadap legenda Ikan Masapi atau belut berkuping masih dipegang teguh oleh masyarakat suku Bugis-Makassar hingga saat ini. Kepercayaan ini bukan sekadar mitos, melainkan bentuk penghormatan terhadap janji sakral leluhur yang pernah ditolong oleh makhluk sungai unik tersebut pada masa penjajahan Belanda. Sumpah ini diwariskan turun-temurun sebagai identitas budaya yang tak lekang oleh zaman.

Larangan memakan Ikan Masapi berakar dari kisah seorang nenek moyang suku Bugis yang berhasil selamat dari kejaran tentara Belanda. Saat terdesak di hutan belantara, seekor Ikan Masapi muncul dari sungai dan menunjukkan jalan menuju tempat persembunyian yang aman. Sebagai bentuk rasa syukur yang mendalam atas keselamatan nyawanya, sang leluhur mengikrarkan sumpah bahwa seluruh keturunannya tidak akan pernah mengonsumsi ikan tersebut sebagai bentuk balas budi yang abadi.

Fakta menarik dari ikan ini terletak pada ciri fisiknya yang tidak lazim. Berbeda dengan belut atau sidat pada umumnya, Ikan Masapi yang dikeramatkan memiliki bagian menyerupai daun telinga manusia di sisi kepalanya. Masyarakat Bugis menyebutnya sebagai ikan yang "memiliki telinga," dan jenis inilah yang secara ketat dilarang untuk ditangkap atau dimakan, sementara jenis yang tidak memiliki telinga seringkali dianggap berbeda.

Foto ilustrasi ikan masapi/sidat (Sumber: sulselekspres.com)

Hingga generasi modern sekarang, sumpah ini dianggap sakral dan memiliki konsekuensi spiritual bagi mereka yang melanggarnya. Dalam siaran Pantas Bugis Pro 4 RRI Samarinda pada Senin, 23 Februari 2026, narasumber menyebutkan bahwa pelanggaran terhadap pantangan ini dipercaya dapat menyebabkan kesialan hingga gangguan kesehatan yang sulit dijelaskan secara medis, seperti kondisi linglung atau kehilangan kesadaran sementara. Hal ini dianggap sebagai teguran dari alam atas pengkhianatan terhadap janji leluhur.

"Kami memegang teguh banget itu yang namanya sumpah. Orang tua zaman dulu kalau ada yang melanggar, akibatnya bisa ke keturunan. Ada keluarga yang jadi linglung karena hajat atau sumpah leluhur itu tidak dijalankan dengan benar," ujar Indo Siti dalam diskusi budaya di RRI Samarinda.

Selain larangan memakan, terdapat fakta unik mengenai sensitivitas keturunan Bugis terhadap ikan ini. Konon, asap dari pembakaran Ikan Masapi pun bisa menimbulkan efek negatif. Sebagian warga meyakini bahwa hanya dengan menghirup asap atau sekadar terkena aromanya, kulit seseorang yang terikat sumpah dapat melepuh atau mengalami gatal-gatal hebat. Hal ini membuat masyarakat sangat berhati-hati bahkan ketika hanya berada di sekitar lokasi pengolahan ikan tersebut.

Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya nilai-nilai kearifan lokal dalam membentuk identitas budaya masyarakat. Legenda Ikan Masapi bukan sekadar dongeng, melainkan instrumen moral untuk mengajarkan pentingnya rasa syukur, kejujuran dalam memegang janji, dan menjaga keharmonisan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya. Kepercayaan ini menjadi pengikat komunitas yang tetap dijaga meskipun masyarakat telah merantau jauh dari tanah Sulawesi.

Penghormatan terhadap pesan leluhur ini tetap lestari di tengah perkembangan teknologi, membuktikan bahwa ikatan sejarah masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan komunitas Bugis-Makassar. Bagi mereka, mematuhi pantangan Ikan Masapi adalah cara menghargai sejarah perjuangan nenek moyang yang berhasil bertahan hidup berkat bantuan alam.

Rekomendasi Berita