Keluarga Jadi Kunci Utama Cegah Kepunahan Bahasa Daerah di Kaltim
- 27 Feb 2026 05:04 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Bahasa daerah atau bahasa ibu kini menghadapi tantangan eksistensi di tengah gempuran bahasa asing dan bahasa gaul. Duta Bahasa Kalimantan Timur dan Utara (Kaltimtara) menegaskan bahwa peran keluarga menjadi benteng terakhir sekaligus kunci utama dalam melestarikan bahasa daerah agar tidak punah.
Pemenang 1 Duta Bahasa Kaltimtara 2025, Muhammad Tirta Artesian, dalam dialog Odah Bekesah di RRI Samarinda mengungkapkan bahwa keluarga adalah lingkungan pertama tempat seorang anak mengenal komunikasi. Menurutnya, karakter dan jati diri seseorang sangat dipengaruhi oleh bahasa yang digunakan di rumah.
"Bahasa ibu ini penting benar karena merupakan bahasa yang pertama kali kita tahu tanpa harus belajar secara formal. Ini membentuk karakter kita, terutama dalam nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil," ujar Tirta.
Senada dengan Tirta, Jacinta Maharani Mulawarman yang juga Pemenang 1 Duta Bahasa Kaltimtara 2025, menyayangkan tren saat ini di mana banyak orang tua tidak lagi membiasakan penggunaan bahasa daerah kepada anak-anak mereka. Padahal, pengajaran bahasa melalui interaksi sehari-hari di rumah jauh lebih efektif dibandingkan pengajaran formal di sekolah.
"Sangat sayang kalau orang tua atau tetua tidak mengajarkan bahasa daerah ke anak-anaknya. Padahal interaksi setiap hari ada di sana. Semakin cepat anak-anak diajarkan di rumah, semakin cepat mereka mengerti dan mencintai budayanya," jelas Jacinta.
Jacinta juga berbagi pengalaman pribadinya mengenai teman sebaya yang kehilangan identitas sukunya hanya karena tidak dibiasakan berkomunikasi dengan bahasa daerah sejak kecil. Menurutnya, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wadah yang mengandung kultur dan filosofi mendalam, seperti istilah-istilah unik yang tidak bisa diterjemahkan secara harfiah ke bahasa lain.
Melalui momentum Hari Bahasa Ibu Internasional, Duta Bahasa Kaltimtara mengajak seluruh masyarakat Kalimantan Timur untuk kembali bangga menggunakan bahasa ibu di lingkungan keluarga. Hal ini penting untuk menjaga 16 bahasa daerah yang ada di Kaltim agar tetap lestari di tengah pesatnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan arus digitalisasi.
"Sehebat apapun kita, jangan lupakan bahasa daerah. Itulah tempat kita kembali dan menjadi jati diri kita yang sesungguhnya," ujar Tirta.