Mencetak Penulis Cilik lewat Buku "Pahlawan di Sekitar Kita"
- 23 Feb 2026 12:53 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Budaya literasi di Indonesia sering kali dianggap rendah, namun tunas-tunas baru dari Samarinda membuktikan sebaliknya. Melalui gerakan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), 20 anak berhasil meluncurkan buku antologi berjudul "Pahlawan di Sekitar Kita". Ini bukan sekadar proyek sekolah, melainkan sebuah gerakan literasi berbasis karakter yang mengajarkan anak-anak untuk peka terhadap lingkungan sosial melalui tulisan dan komik.
Anak-anak seperti Raziq dan Ahsan menunjukkan bahwa menulis adalah keterampilan yang harus dipupuk sejak dini. Raziq bahkan telah menerbitkan buku pertamanya di usia 8 tahun tentang perjalanannya keliling Jawa. Ketekunan ini membuahkan karakter yang kuat. "Teruslah berkarya dan semangat meraih cita-cita, jangan pedulikan rintangan apa pun," ujar Raziq untuk teman-temannya di rumah, sebuah kalimat yang mencerminkan mentalitas pantang menyerah.
Aspek kejujuran dalam berkarya menjadi nilai utama dalam pendidikan karakter melalui literasi ini. Ahsan Ahnaf, yang bercita-cita menjadi komikus, menuangkan imajinasinya dalam bentuk visual yang detail. Baginya, menulis dan menggambar komik adalah cara agar "imajinasi kita bisa dikeluarkan menjadi realitas." Literasi di sini berfungsi sebagai jembatan antara dunia ide yang abstrak dengan dunia nyata yang bisa diapresiasi oleh orang lain.
Integrasi nilai agama juga tampak kuat dalam profil para penulis cilik ini. Di tengah kesibukan menulis, mereka tetap konsisten menjaga hafalan Al-Qur'an. Raziq menargetkan khatam 30 juz, sementara Ahsan telah meraih prestasi dalam tasmi' juz 28 dan 30. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang komprehensif menggabungkan kecerdasan intelektual melalui literasi dan kecerdasan spiritual melalui agama.
Dalam program siaran Dunia Anak Pro 4 RRI Samarinda yang ditayangkan hari Minggu, 22 Februari 2026 ini juga mengingatkan kembali pentingnya "empat kata ajaib" dalam komunikasi anak: Permisi, Tolong, Maaf, dan Terima Kasih. Literasi bukan hanya soal membaca buku, tapi juga membaca adab. Pendidikan karakter melalui tulisan akan terasa hambar jika tidak dibarengi dengan praktik kesantunan di dunia nyata, sesuatu yang terus ditekankan oleh Bunda Fitri, selaku pendamping dari Kampung Dongeng Etam.
Metode pendampingan oleh mentor-mentor profesional memberikan ruang bagi anak untuk berekspresi secara bebas namun terarah. Anak-anak diajak untuk membuat sketsa, menebalkan, dan mewarnai ide mereka sendiri. Hal ini membangun rasa percaya diri dan kepemilikan (sense of ownership) terhadap karya. Anak tidak lagi menjadi objek pendidikan, melainkan subjek yang aktif memproduksi pengetahuan dan nilai-nilai positif.
Pada akhirnya, gerakan menulis di kalangan anak-anak Samarinda ini diharapkan menjadi pemantik bagi anak-anak lain di seluruh Indonesia. Literasi harus menjadi gaya hidup yang menyenangkan, bukan beban akademis. Dengan menuliskan siapa pahlawan bagi mereka, anak-anak ini sedang belajar untuk menjadi pahlawan bagi diri mereka sendiri dan masyarakat di masa depan melalui pena dan imajinasi.