Pakar Ingatkan Waspada Gigitan Nyamuk Siang Hari
- 04 Mar 2026 14:29 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Distribusi vaksin demam berdarah dengue (DBD) di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus diperkuat sebagai langkah pencegahan kasus dan kematian. Selain dukungan dari Dinas Kesehatan, kalangan akademisi juga menekankan pentingnya pemahaman karakter penyakit DBD agar masyarakat tidak terlambat melakukan penanganan.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, Suwandari Paramita, menjelaskan DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang memiliki pola waktu menggigit berbeda dari nyamuk biasa.
“Penyakit demam berdarah dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini khas karena menggigit pada pagi hingga siang hari, sekitar pukul 08.00 sampai 10.00, dan sore menjelang pukul 16.00. Itu bertepatan dengan jam sekolah anak-anak,” ujar Suwandari kepada RRI, dikutip Rabu 4 Maret 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa anak usia sekolah menjadi sasaran utama vaksinasi DBD. Aktivitas belajar di pagi dan sore hari meningkatkan risiko paparan gigitan nyamuk pembawa virus dengue.
Ia menambahkan, gejala awal DBD kerap tidak disadari karena mirip demam biasa. Keterlambatan mengenali tanda bahaya dapat berujung pada kondisi serius.
“Gejala awalnya demam dengan suhu badan naik. Namun banyak kasus terlambat dikenali karena dianggap demam biasa. Ketika pasien mulai lemas dan diperiksa darahnya, ternyata sudah mengarah ke demam berdarah. Jika tidak cepat ditangani, bisa berisiko fatal,” ucapnya.
Selain faktor waktu gigitan, aspek kebersihan lingkungan sekolah juga menjadi perhatian. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di air bersih yang tergenang, seperti bak mandi, tempat penampungan air, hingga barang bekas yang menampung air hujan.
“Nyamuk demam berdarah hidup di air yang relatif bersih, seperti bak mandi atau kaleng bekas yang menampung air. Jadi kebersihan lingkungan sekolah harus dijaga. Tidak bisa hanya mengandalkan daya tahan tubuh anak,” kata Suwandari.
Terkait efektivitas vaksin, ia menegaskan bahwa imunisasi bukan berarti menghilangkan risiko terinfeksi sepenuhnya. Vaksin berfungsi memperkuat daya tahan tubuh agar tidak berkembang menjadi kondisi berat.
“Prinsip vaksinasi bukan membuat orang sama sekali tidak terkena, tetapi mencegah agar tidak jatuh pada kondisi yang serius. Jika sudah memiliki kekebalan, risiko komplikasi dan kematian lebih rendah dibandingkan yang tidak divaksin,” ujarnya.
Meski vaksinasi diperluas, Suwandari mengingatkan bahwa gerakan 3M tetap menjadi fondasi utama pencegahan DBD.
“Walaupun ada vaksin, 3M tidak boleh ditinggalkan. Vaksin itu dasar penguatan imunitas, tetapi pengendalian lingkungan tetap kunci utama,” ucapnya.
Dengan kombinasi vaksinasi, edukasi gejala dini, serta penguatan kebersihan lingkungan sekolah dan rumah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur optimistis kasus DBD dapat terus ditekan sepanjang 2026.