Mengenal Sanggar Banyu, Kuliner Tradisional Banjar nan Legit

  • 20 Feb 2026 16:19 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Keanekaragaman kuliner tradisional Kalimantan kembali menjadi sorotan dalam diskusi budaya yang digelar oleh RRI Samarinda melalui program Pantas Banjar, Jum'at, 30 Januari 2026. Kali ini, masyarakat membahas secara mendalam tentang "Sanggar Banyu", sebuah kudapan khas suku Banjar yang sering menjadi primadona, terutama sebagai menu takjil saat bulan suci Ramadan.

Dalam diskusi tersebut, terungkap bahwa Sanggar Banyu merupakan kudapan berbahan dasar utama singkong dan pisang yang diolah dengan cara dikukus. Nama "Banyu" atau air sendiri merujuk pada proses pengolahannya yang melibatkan uap air atau direbus, berbeda dengan istilah "Sanggar" pada umumnya di Kalimantan yang biasanya merujuk pada gorengan.

Acil Mila, selaku narasumber dalam siaran tersebut, menjelaskan bahwa Sanggar Banyu memiliki komposisi bahan yang sederhana namun kaya rasa. Perpaduan antara parutan singkong yang membungkus pisang memberikan tekstur kenyal dan rasa manis yang alami, yang kemudian dilengkapi dengan taburan kelapa untuk memberikan sentuhan gurih.

"Sanggar Banyu itu bahannya dari singkong, pisang, dan kelapa parut yang muda. Bahan ini diolah dan dikukus, rasanya manis dan sangat pas untuk teman bersantai," ujar Acil Ewwi saat memaparkan detail bahan pembuatan kudapan tersebut.

Diskusi ini juga mengungkap banyaknya versi pengolahan Sanggar Banyu yang berkembang di masyarakat. Selain resep klasik berbahan singkong parut, terdapat pula masyarakat yang menggunakan adonan tepung gandum atau tepung ketan untuk mendapatkan tekstur kulit yang lebih halus dan lembut saat digigit.

Pemilihan jenis pisang juga menjadi kunci kelezatan dari hidangan ini. Menurut penjelasan dalam diskusi tersebut, pisang mahuli dan pisang kepok sering menjadi pilihan utama karena teksturnya yang tetap kokoh meski telah melalui proses pengukusan, sehingga tidak hancur saat dibalut dengan adonan singkong.

Selain sebagai hidangan rumahan, Sanggar Banyu juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi di pasar-pasar tradisional. Popularitasnya yang meningkat saat bulan puasa menjadikan kudapan ini sebagai salah satu sumber penghasilan bagi para pedagang kue tradisional di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Melalui ulasan kuliner ini, diharapkan masyarakat terutama generasi muda tetap mengenal dan menjaga kelestarian resep leluhur. Sanggar Banyu bukan sekadar pengganjal perut, melainkan representasi dari kearifan lokal dalam mengolah hasil bumi menjadi hidangan yang bernilai budaya tinggi.

Rekomendasi Berita