Punggahan, Tradisi Makan Bersama Bernilai Sosial Tinggi

  • 22 Feb 2026 15:10 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Tradisi punggahan menjadi bentuk rasa syukur atas kesempatan kembali dipertemukan dengan bulan suci. Dalam pandangan umat Muslim, bertemu Ramadhan adalah nikmat besar yang patut dirayakan dengan doa dan kebersamaan.

Tradisi ini bernilai sosial tinggi, menghadirkan ruang silaturahmi melalui makan bersama, doa bersama, serta percakapan hangat antar keluarga dan masyarakat. Momen tersebut sering dimanfaatkan untuk saling memaafkan, bahkan disertai tahlil dan ziarah kubur sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Punggahan dilaksanakan dengan cara yang beragam sesuai kearifan lokal. Di wilayah Jawa, kegiatan biasanya diisi pengajian, doa, ceramah, dan makan bersama yang dipimpin tokoh agama.

Ada pula komunitas yang menjadikan punggahan sebagai pertemuan sosial untuk mempererat hubungan antarwarga. Meski bentuknya berbeda, inti tradisi tetap sama, yakni menyiapkan hati dan memperkuat kebersamaan menjelang Ramadhan.

Makan bersama menjadi bagian khas dari punggahan. Setiap keluarga biasanya membawa makanan yang kemudian didoakan sebelum disantap bersama.

Menu yang hadir sangat beragam, mulai dari jajanan tradisional hingga hidangan rumahan. Beberapa makanan yang kerap ditemui antara lain nasi ketan dengan parutan kelapa, pisang raja, kue apem, kue pasung, hingga nasi urap dan gorengan.

Tradisi saling mencicipi makanan juga menjadi simbol kebersamaan dan saling berbagi rezeki.

Rekomendasi Berita