Megengan, Tradisi yang Mengajarkan Pengelolaan Hawa Napsu Buruk
- 22 Feb 2026 21:01 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Tradisi megengan merupakan salah satu praktik budaya-keagamaan yang masih bertahan di sejumlah wilayah Jawa, menjelang datangnya bulan Ramadan. Tradisi ini umumnya dilakukan pada hari-hari terakhir bulan Syaban dan menjadi penanda sosial bahwa masyarakat akan memasuki bulan puasa.
Secara praktik, megengan biasanya diwujudkan melalui kenduri atau selamatan, doa bersama, serta pembagian makanan kepada tetangga dan kerabat. Sering dikaitkan dengan aktivitas keagamaan, megengan juga dipahami sebagai tradisi sosial yang tumbuh dari pertemuan antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal masyarakat Jawa.
Istilah megengan diyakini berasal dari kata Jawa “megeng” yang berarti menahan. Makna ini selaras dengan semangat Ramadan, yakni menahan diri dari hawa nafsu dan perbuatan yang tidak baik.
Penamaan tersebut tidak lahir dari teks keagamaan formal, melainkan dari pemaknaan budaya yang berkembang di tengah masyarakat.
Dari sisi sejarah, megengan tidak memiliki catatan kelahiran yang pasti. Tradisi ini diperkirakan berkembang seiring proses islamisasi di Jawa, ketika ajaran Islam menyatu dengan kebiasaan masyarakat yang sebelumnya telah mengenal tradisi selamatan dan jamuan komunal.
Dalam konteks ini, megengan menjadi bentuk adaptasi budaya yang memudahkan nilai-nilai Islam diterima tanpa menanggalkan identitas lokal. Pelaksanaan megengan di setiap daerah bisa berbeda.
Di sebagian wilayah, tradisi ini diawali dengan ziarah makam keluarga, lalu dilanjutkan dengan doa dan kenduri di rumah atau musala. Di tempat lain, megengan cukup dilakukan dengan mengirim makanan kepada tetangga sebagai simbol kebersamaan dan saling mendoakan.