Angka Kusta Tembus 17 Ribu Kasus, Indonesia Kekurangan Tenaga Ahli Pengendalian
- 10 Mar 2026 04:58 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Angka kasus kusta di Indonesia hingga saat ini masih menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, berada di kisaran 15.000 hingga 17.000 kasus per tahun, khususnya di wilayah Timur seperti Papua, Maluku, NTT atau NTB. Dalam memerangi penyakit kusta perlu pendampingan kesehatan kepada masyarakat.
Hal itu diungkap Manajer Program NLR Indonesia dr. Teky Budiawan, MPH dalam seminar nasional puncak rangkaian Dies Natalis ke-7 Fakultas Kedokteran (FK) Soegijapranata Catholic University (SCU).
“Sekarang technical advisor yang biasa memberikan pendampingan kepada pemerintah dan lembaga kesehatan dalam upaya pengendalian, pengobatan, dan eliminasi penyakit kusta sudah mulai sedikit di Indonesia. Maka, peran pendidikan kedokteran menjadi penting untuk menekankan tantangan ini kepada para calon dokter,” tegasnya dalam rilis pers, Selasa, 10 Maret 2026.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Inovasi, Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama SCU, Perigrinus H. Sebong, MPH mengatakan isu penyakit kusta ini sebagai hal yang menarik untuk ditawarkan kepada mahasiswa. “Kami akan mengarahkan para lulusan bisa magang sebagai technical advisor lepra/kusta, karena sekarang kebutuhannya sangat banyak,” tandasnya.
Hal ini, Menurutnya, tidak hanya menunjukkan kontribusi fakultas, akan tetapi juga mempersiapkan para lulusan untuk menghadapi tantangan kesehatan di Indonesia. Langkah ini sejalan dengan fokus Fakultas Kedokteran dalam memberikan perhatian pada Penyakit Tropis Terabaikan atau Neglected Tropical Diseases (NTDs), yang salah satunya adalah kusta.
“NTDs tidak terlalu ‘seksi’ di level global, dilihat dari anggarannya yang masih sedikit. Seminar ini pun membuka peluang kerja sama riset antara FK SCU dengan NLR Indonesia," ucapnya.
Dosen FK SCU , Dr. dr. Fransisca P. Hardimarta, M.Si.Med menambahkan peluang ini sejalan dengan perhatian fakultas pada Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK). Menurutnya, langkah ini dapat menjadi kontribusi FK SCU dalam menyukseskan Program Eliminasi Kusta 2030.
"Mahasiswa diharapkan dapat memahami peran strategis pendidikan kedokteran dalam mengurangi morbiditas dan disabilitas akibat kusta. Pendidikan kedokteran punya peran untuk menyukseskan fokus program, yaitu 0 kasus baru, 0 disabilitas, dan 0 stigma,” tandasnya.
Kegiatan bertajuk “Peran Strategis FK SCU untuk Mengurangi Morbiditas dan Disabilitas Akibat Kusta Menuju Eliminasi 2030” menjadi perhatian tantangan kesehatan di Indonesia.