Universitas Semarang Bangun Budaya Menulis Dosen dan Mahasiswa
- 14 Mar 2026 08:18 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Workshop Pusat Bahasa dan Budaya Universitas Semarang (USM) membangun budaya menulis ditengah perkembangan industry kreatif bagi dosen dan mahasiswa, Kamis, 12 Maret 2026. Workshop bertema “Kreatif Menulis pada Era Industri Kreatif” berlangsung di Ruang Teleconference kmpus USM.
Kegiatan menghadirkan narasumber sastrawan Triyanto Triwikromo dan CEO PT Marimas Putra Kencana serta content creator edukatif, Harjanto Kusuma Halim. Workshop dipandu Direktur USM LCC, Adi Ekopriyono yang diikuti para mahasiswa dan dosen.
Rektor USM. Dr Supari MT selaku keynote speaker mengemukakan, menulis tidak hanya sekedar merangkai kata. Namun menulis juga menjadi cara merangkai pikiran.
“Menulis adalah proses mendisiplinkan gagasan, latihan kejujuran intelektual. Bahkan lebih dari itu, menulis adalah latihan keberanian, yakni keberanian untuk memiliki sudut pandang,” ucapnya.
Menurutnya, kreativitas memiliki nilai sosial dan kultural dan melalui tulisan dapat membangun kesadaran. Narasi dapat mengubah perspektif, sedangkan konten dapat membentuk karakter generasi.
''Mari kita jadikan kegiatan ini sebagai titik awal membangun budaya menulis yang menjadi titik awal membangun keberanian berpikir. Titik awal membangun integrasi antara kedalaman akademik dan kelincahan digital untuk membuka pikiran, membuka diri terhadap ide-ide baru, dan berani bereksperimen,'' katanya.
Pada era industri kreatif ini, lanjut dia, mereka yang bertahan bukan yang paling kuat, melainkan yang paling adaptif. “Bukan yang paling cepat, melainkan yang paling kreatif,” imbuhnya.
Narasumber, Triyanto mengatakan secara teologis menulis adalah respons manusia terhadap perintah Tuhan, “Bacalah!” Apa yang dibaca? Tentu saja tulisan, tapi ada perintah lain, yaitu “Tulislah!”, ucapnya.
Secara historis, katanya, menulis adalah tindakan perekaman jejak dan upaya untuk melawan lupa, mengekalkan sesuatu yang kelak retak dan penulis membuatnya abadi, tindakan menziarahi masa depan. Secara filosofis, menulis adalah tindakan untuk mengekspresikan diri.
“Aku menulis karena itu aku meruang dan mewaktu. Aku menulis karena itu aku kontekstual,'' ujarnya.
Narasumber lainnya, Harjanto Halim mengungkapkan, ide visualisasi gagasan atau tulisan bisa diperoleh dari pengalaman hidup sehari-hari, di mana pun, kapan pun. “Sering ide itu muncul pada kondisi kita rileks. Biasanya, saya spontan membuat konten,” katanya.