Sejarah Bakso, Kuliner Populer di Kutai Barat
- 03 Feb 2026 17:08 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar – Bakso merupakan salah satu makanan paling populer di Indonesia, termasuk di Kabupaten Kutai Barat. Semangkuk bakso dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp15.000 hingga Rp30.000. Di Kutai Barat, kuliner ini mudah dijumpai, baik dari pedagang gerobak keliling hingga warung makan sederhana.
Selama ini, bakso kerap dianggap sebagai makanan asli Indonesia. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Sejarah bakso berkaitan erat dengan budaya Tionghoa dan proses akulturasi yang berlangsung di Nusantara selama berabad-abad.
Berdasarkan sejumlah sumber, bakso diyakini berasal dari Tiongkok pada masa Dinasti Ming, sekitar tahun 1368 hingga 1644. Menurut legenda, seorang pemuda bernama Meng Bo menciptakan makanan ini untuk ibunya yang sudah lanjut usia dan kesulitan mengunyah daging. Ia menumbuk daging hingga halus, membentuknya menjadi bulatan kecil, lalu menyajikannya dengan kuah hangat.
Makanan tersebut kemudian dikenal luas di wilayah Fuzhou dan menyebar ke berbagai daerah di Tiongkok. Dalam bahasa Hokkien, makanan ini disebut “bak-so” yang berarti daging yang digiling.
Bakso diperkirakan masuk ke Nusantara pada abad ke-16 hingga ke-19 melalui pedagang dan imigran Tionghoa, seiring intensifnya jalur perdagangan laut. Pada awalnya, bakso menggunakan daging babi. Namun, karena mayoritas masyarakat Nusantara beragama Islam, bahan baku kemudian disesuaikan dengan menggunakan daging sapi, ayam, kambing, atau kerbau.
Perkembangan bakso semakin pesat pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, seiring tumbuhnya kota-kota dan pasar di masa Hindia Belanda. Pedagang kaki lima dan penjual gerobak berperan besar dalam memperluas penyebaran bakso sebagai makanan cepat saji yang terjangkau.
Berbagai pelengkap khas Indonesia, seperti mi, tahu, siomai, serta bumbu lokal, turut memperkaya cita rasa bakso. Memasuki akhir abad ke-20, kemajuan teknologi pangan mendorong industrialisasi bakso, termasuk penggunaan tepung tapioka untuk menghasilkan tekstur kenyal yang menjadi ciri khasnya.
Kini, bakso telah menjadi bagian dari identitas kuliner nasional Indonesia, dengan beragam varian daerah seperti bakso Malang, Solo, Wonogiri, dan Semarang. Kuliner ini pun telah menyebar hampir ke seluruh pelosok Tanah Air.
Mengetahui asal-usul bakso diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat, khususnya dalam memahami kekayaan sejarah dan akulturasi kuliner di Indonesia. (Edy)