Dari Buah Segar hingga Sanggar, Cempedak Jadi Primadona Musiman
- 15 Feb 2026 20:13 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar - Cempedak menjadi salah satu buah musiman yang cukup digemari masyarakat Kalimantan. Buah ini memiliki bentuk dan tekstur yang mirip dengan nangka, dengan daging berwarna kuning serta rasa manis legit. Aromanya khas dan cukup kuat, bahkan kerap dibandingkan dengan durian karena baunya yang tajam dan mudah dikenali.
Di Kalimantan Timur, cempedak tidak hanya dinikmati dalam kondisi segar. Masyarakat setempat memiliki cara unik dalam mengolahnya menjadi camilan tradisional yang dikenal dengan sebutan sanggar cempedak. Istilah “sanggar” sendiri merujuk pada pisang goreng, namun dalam sajian ini bahan utamanya bukan pisang, melainkan daging buah cempedak.
Proses pembuatannya terbilang sederhana. Daging cempedak dibalut adonan tepung yang telah diberi sedikit gula atau garam, lalu digoreng hingga matang. Menariknya, sanggar cempedak biasanya digoreng bersama bijinya. Karena itu, api yang digunakan harus kecil agar biji cempedak ikut matang sempurna tanpa membuat bagian luar terlalu cepat gosong.
Saat matang, tekstur luarnya renyah sementara bagian dalamnya tetap lembut dan manis. Sensasi rasa legit berpadu dengan aroma khas cempedak menjadikan kudapan ini favorit untuk dinikmati selagi hangat. Tak heran jika sanggar cempedak kerap menjadi teman minum teh atau kopi, baik di pagi maupun sore hari.
Tidak hanya daging buahnya yang bisa dimanfaatkan, kulit cempedak pun dapat diolah menjadi makanan. Di sejumlah daerah di Kalimantan, olahan kulit cempedak dikenal dengan nama mandai. Makanan ini menjadi bukti kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan hasil alam secara maksimal tanpa menyisakan limbah.
Proses pembuatan mandai cukup unik dan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Kulit cempedak dipotong-potong, kemudian dimasukkan ke dalam wadah tertutup dan dicampur garam secukupnya. Setelah itu, kulit tersebut difermentasi dalam jangka waktu lama, bisa berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun.
Melalui berbagai olahan tersebut, cempedak tidak sekadar menjadi buah musiman, tetapi juga bagian dari kekayaan kuliner tradisional Kalimantan. Dari sanggar yang manis dan renyah hingga mandey yang gurih, cempedak menghadirkan cita rasa khas yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.