Sugar Craving Dipicu Stres dan Emosi

  • 10 Feb 2026 19:14 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga - Sugar craving atau keinginan kuat mengonsumsi makanan manis sering muncul bukan semata karena lapar, melainkan dipicu oleh kondisi psikiologis. Stres, kelelahan emosional hingga tekanan aktivitas sehari-hari menjadi faktor yang mendorong seseorang mencari makanan manis sebagai pengalihan.

Hal itu disampaikan oleh dr. Maya Pradipta, M.Gizi seorang Ahli gizi klinis pada program acara Spada, Pro 2 RRI Sibolga pada Senin, 9 Februari 2026. Menurutnya, tubuh dan emosi memiliki keterkaitan erat dalam mengatur nafsu makan seseorang.

Makanan manis sering dianggap mampu memberi rasa nyaman sementara tetapi efek tersebut tidak berlangsung lama dan justru dapat memicu siklus craving berulang. 

"Naiknya gula darah setelah konsumsi manis biasanya diikuti penurunan cepat, sehingga tubuh kembali meminta asupan serupa," Ujarnya.

Ia menjelaskan kebiasaan menjadikan makanan manis sebagai pengelola emosi berisiko menganggu keseimbangan metabolisme. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berdampak lebih jauh pada peningkatan berat badan dan masalah kesehatan lainnya.

"Sugar craving yang dibiarkan bisa berkembang menjadi pola makan yang tidak terkontrol," Tambahnya. Lebih jauh ia menyarankan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada makanan, tetapi juga pengelolaan stres.

Aktivitas fisik ringan, tidur cukup, serta teknik relaksasi dinilai mampu membantu menekan dorongan emosional terhadap makanan manis. Dengan secara bersamaan, konsumsi makanan berserat dan bernutrisi seimbang seperti buah, sayur, dan protein dapat membantu menjaga kestabilan gula darah dan memperpanjang rasa kenyang.

Ia mengharapkan agar masyarakat lebih bijak dalam menyikapi sugar craving dikarenakan hal ini dapat dipicu oleh stres dan emosi. Pendekatan menyeluruh antara pola makan sehat dan manajemen emosi dinilai menjadi kunci untuk mengendalikan keinginan berlebih terhadap makanan manis.

Rekomendasi Berita