Low Porosity dan High Porosity Hair, Apa Bedanya?
- 11 Mar 2026 08:47 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja: Istilah low porosity hair dan high porosity hair belakangan semakin sering dibahas di media sosial, terutama dalam konten perawatan rambut. Banyak orang mulai menyadari bahwa memilih produk hair care tidak cukup hanya melihat jenis rambut seperti lurus, bergelombang, atau keriting. Faktor lain yang tak kalah penting adalah porositas rambut, yaitu kemampuan rambut dalam menyerap dan mempertahankan kelembapan. Memahami porositas rambut dapat membantu seseorang menentukan jenis perawatan yang paling sesuai dengan kondisi rambutnya.
Low porosity hair merupakan jenis rambut yang memiliki kutikula atau lapisan pelindung rambut yang sangat rapat. Kondisi ini membuat air maupun produk perawatan sulit menembus batang rambut. Akibatnya, produk seperti kondisioner atau hair mask sering terasa hanya “duduk” di permukaan rambut tanpa benar-benar meresap. Namun di sisi lain, rambut dengan porositas rendah biasanya tampak lebih berkilau dan terasa halus karena kutikulanya yang tertutup rapat.
Berbeda dengan itu, high porosity hair memiliki struktur kutikula yang lebih terbuka atau bahkan sedikit rusak. Hal ini membuat rambut mudah menyerap air dan produk perawatan, tetapi juga cepat kehilangan kelembapan. Rambut dengan porositas tinggi sering terlihat lebih kering, kusam, dan mudah kusut. Kondisi ini bisa terjadi secara alami, namun juga sering dipicu oleh penggunaan bahan kimia seperti pewarna rambut, bleaching, atau penggunaan alat styling panas yang terlalu sering.
Mengetahui jenis porositas rambut dapat menjadi langkah awal untuk mendapatkan rambut yang lebih sehat. Pemilik low porosity hair biasanya disarankan menggunakan produk yang ringan agar tidak menumpuk di rambut, sementara pemilik high porosity hair lebih cocok menggunakan produk yang kaya nutrisi untuk menjaga kelembapan. Dengan memahami kebutuhan rambut, perawatan yang dilakukan pun menjadi lebih efektif dan hasilnya bisa lebih maksimal.