Program Literasi Kreatif di Sekolah Dinilai Efektif Bangun Minat Baca Siswa

  • 10 Mar 2026 20:39 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Berbagai inovasi literasi terus dikembangkan di lingkungan sekolah untuk menumbuhkan minat baca siswa. Akademisi sekaligus pendidik Gede Aryasantika membagikan pengalaman penerapan sejumlah program literasi kreatif di sekolah tempatnya mengajar.

Salah satu program yang dijalankan adalah ASUBA (Apresiasi Satu Siswa Satu GTK Suka Baca). Program ini bertujuan mendorong siswa untuk lebih sering berkunjung ke perpustakaan.

Melalui program tersebut, siswa yang paling aktif membaca dan mengunjungi perpustakaan dalam periode tertentu akan mendapatkan apresiasi berupa makanan dan minuman sehat.

“Tujuan utamanya bukan sekadar hadiah, tetapi untuk memancing kebiasaan datang ke perpustakaan terlebih dahulu. Ketika mereka sudah terbiasa datang, maka minat membaca akan mengikuti,” jelas Ari.

Program ini bahkan mendapat apresiasi secara nasional. Pada tahun 2022, ASUBA terpilih sebagai salah satu dari seratus program literasi terbaik dari ribuan guru di Indonesia, sehingga Ari dinobatkan sebagai guru motivator nasional.

Selain ASUBA, pihak sekolah juga menjalankan program lain yang disebut Gaspol (Geraha Sambada Push On Public). Dalam program ini, tim literasi membuat rak buku berbentuk kereta dorong yang berisi buku-buku bacaan ringan.

Rak buku tersebut kemudian didorong ke berbagai area sekolah seperti lorong atau tempat berkumpul siswa saat jam istirahat.

“Anak-anak biasanya nongkrong di lorong sekolah. Jadi buku kita bawa ke tempat mereka berkumpul, supaya membaca terasa lebih santai dan tidak kaku seperti di ruang kelas,” ujarnya.

Program tersebut dijalankan oleh komunitas siswa bernama AKSARA (Agen Perpustakaan Geraha Sambada) yang bertugas membantu menggerakkan kegiatan literasi di sekolah.

Menurut Ari, keterlibatan siswa secara langsung menjadi kunci keberhasilan program literasi. Ia menilai generasi Z memiliki potensi kepemimpinan yang besar apabila diberikan ruang untuk berinisiatif.

“Kita hanya menjadi penggerak. Yang bergerak sebenarnya adalah mereka. Ketika siswa merasa dilibatkan, mereka akan lebih antusias menjalankan program literasi,” katanya.

Ke depan, Ari dan tim literasi juga berencana mengembangkan media literasi yang lebih luas, termasuk membuat podcast sekolah dan radio komunitas sebagai sarana berbagi informasi dan edukasi.

Melalui berbagai inovasi tersebut, diharapkan minat baca generasi muda dapat terus meningkat sekaligus memperkuat karakter mereka di era digital.

Rekomendasi Berita