Tradisi dan Sejarah Angpao
- 15 Feb 2026 16:22 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Memasuki perayaan Tahun Baru Imlek, suasana di kawasan Pasar Sungai Durian hingga pemukiman warga Tionghoa di tepian Sungai Kapuas dan Melawi mulai semarak dengan ornamen serba merah. Di balik kemeriahan tersebut, tradisi pembagian Angpao tetap menjadi momen yang paling dinantikan, terutama oleh anak-anak dan remaja di Kota Sintang. Tradisi yang telah mengakar sejak masa Dinasti Qin (sekitar 221–206 SM) ini bukan sekadar bagi-bagi uang tunai, melainkan sebuah ritual warisan budaya yang membawa pesan keselamatan dan keberuntungan bagi generasi muda.
Sejarah mencatat bahwa Angpao awalnya dikenal dengan sebutan Ya Sui Qian, yang secara harfiah berarti "uang pengusir roh jahat". Berdasarkan legenda kuno, pemberian koin yang dibungkus kertas merah bertujuan untuk melindungi anak-anak dari gangguan iblis bernama "Sui" pada malam pergantian tahun. Warna merah yang dominan pada amplop tersebut dipilih bukan tanpa alasan; dalam kepercayaan Tionghoa, merah melambangkan elemen api yang dipercaya mampu mengusir kegelapan dan energi negatif, sekaligus membawa kegembiraan bagi siapa pun yang menerimanya.
Di Kabupaten Sintang yang dikenal dengan julukan Bumi Senentang, tradisi ini berkembang menjadi simbol kerukunan antar-etnis yang sangat kental. Saat hari raya Imlek tiba, pemandangan anak-anak dari berbagai latar belakang suku yang datang berkunjung ke rumah warga Tionghoa untuk bersilaturahmi adalah hal yang lumrah. Angpao yang diberikan tidak lagi berupa koin yang diikat benang merah seperti ribuan tahun lalu, melainkan amplop merah berisi uang kertas yang melambangkan doa agar penerimanya mendapatkan berkat dan rezeki yang melimpah sepanjang tahun.
Filosofi di balik Angpao juga menekankan pada pentingnya transfer energi positif dari orang tua kepada yang lebih muda. Secara tradisional, mereka yang sudah menikah atau sudah mapan secara finansial memberikan Angpao kepada anak-anak atau kerabat yang belum menikah sebagai bentuk berbagi kebahagiaan. Di Sintang, momen ini sering kali terlihat di area Kelenteng atau saat jamuan makan keluarga, di mana tawa ceria pecah saat amplop merah berpindah tangan, mempererat tali persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat yang harmonis.
Kini, meskipun zaman telah berganti menuju era digital, esensi Angpao di Sintang tetap terjaga orisinalitasnya. Selain pada momen Imlek, tradisi amplop merah ini juga kerap hadir dalam acara pernikahan dan ulang tahun warga lokal sebagai simbol doa terbaik. Melalui selembar amplop merah, sejarah panjang dari daratan Tiongkok kuno tetap hidup dan berdenyut di jantung Kalimantan Barat, membuktikan bahwa tradisi adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan harapan akan masa depan yang lebih cerah.
Sumber:
https://midtrans.com/id/blog/tradisi-memberi-angpao-saat-imlek#::text=Sudah%20Dilakukan%20Sejak%20Zaman%20Dinasti,dalam%20amplop%20merah%20atau%20angpao.
https://pendidikan-matematika.fmipa.unesa.ac.id/post/sejarah-makna-dan-rumus-angpao-imlek-tradisi-amplop-merah-yang-penuh-filosofi#::text=1.,anak%2Danak%20untuk%20melindungi%20mereka.
https://kumparan.com/kumparantravel/mengenal-asal-mula-angpao-tradisi-bagi-bagi-uang-warga-tionghoa-saat-imlek-1v9DQ6yPr5U/1