Tradisi Menyambut Ramadhan di Berbagai Daerah
- 11 Feb 2026 12:48 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong- Bulan Ramadhan selalu disambut dengan penuh sukacita oleh masyarakat Indonesia. Di Berbagai daerah di Nusantara memiliki tradisi khas yang dilakukan menjelang ramadhan. Tradisi-tradisi ini merupakan perpaduan antara nilai Islam dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Beragam cara dilakukan untuk menyucikan diri, mempererat silaturahmi, hingga menumbuhkan rasa syukur sebelum memasuki bulan penuh berkah.
Padusan – Yogyakarta-Jawa Tengah
Di wilayah Yogyakarta ada tradisi padusan. Tradisi ini dilakukan dengan cara mandi atau berendam di sumber mata air, sungai, atau pemandian umum. Secara simbolis padusan memiliki makna upaya pembersihan diri baik secara disik maupun spiritual.
Balimau – Sumatera Barat
Di Sumatera Barat masyarakatnya menyambut Bulan Ramadhan dengan tradisi Balimau yakni mandi dengan air limau atau jeruk nipis. Tradisi ini dilakukan secara berkelompok di sungai, sumber mata air, atau pemandian. Balimau melambangkan pembersihan diri dari kesalahan sebelum memasuki Ramadhan. Selain itu, memon ini juga bisa dijadikan ajang untuk berkumpul dengan sesame dan mempererat jalinan silaturahmi antarwarga.
Meugang – Aceh
Di Aceh ada tradisi namanya Meugang. Meugang telah menjadi bagian penting dalam menyambut Bulan Ramadhan. Masyarakat akan membeli dan memasak daging sapi atau kambing dan kemudian disantap bersama keluarga atau tetangga. Tradisi ini mencerminkan kebersamaan, kepedulian sosial, serta rasa syukur karena akan bertemu kembali dengan Bulan Suci Ramadhan.
Dugderan – Semarang
Di Semarang ada juga tradisi menyambut Ramadhan bernama Dugderan. Tradisi ini ditandai dengan bunyi meriam atau bedug sebagai penanda datangnya bulan Ramadhan. Biasanya acara ini juga diisi dengan arak-arak dan juga pasar rakyat. Ada ikon khas dari acara Dugderan ini yakni Warak Ngendog sebuah simbol akulturasi budaya Arabm Jawa, dan Tionghoa.
Nyorog – Betawi
Di Jakarta ada tradisi Nyorog yakni mengirimkan makanan pada orang tua, kerabat, dan tokoh masyarakat saat menjelang ramadhan. Tradisi ini juga merupakan sbuah perwujudan penghormatan kepada yang lebih tua. Dengan adanya Nyorog masyarakat Betawi bisa menjaga jalinan atau hubungan kekeluargaan.