Heboh Aplikasi Cek Nyawa "Sileme" di Tiongkok, Sempat Puncaki App Store

  • 05 Mar 2026 20:46 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong, - Sebuah aplikasi mobile dengan nama yang kontroversial, Sileme (atau Are You Dead?), baru-baru ini menjadi fenomena viral di Tiongkok. Aplikasi yang dirancang sebagai alat keamanan bagi para penyendiri ini berhasil menarik perhatian warganet dan memuncaki tangga unduhan aplikasi berbayar di App Store Tiongkok, sebelum akhirnya mengumumkan perubahan nama besar-besaran .

Sileme, yang dalam bahasa Mandarin kurang lebih berarti "Apakah kamu sudah mati?", merupakan plesetan dari nama aplikasi pesan antar makanan terkenal, Eleme ("Apakah kamu lapar?") . Aplikasi ini digambarkan oleh pengembangnya sebagai "alat keamanan ringan bagi orang yang tinggal sendiri" .

Cara kerjanya sangat sederhana namun menyentuh rasa cemas banyak orang. Pengguna diwajibkan untuk menekan tombol "Check In" di dalam aplikasi setiap hari. Jika pengguna lalai melakukannya selama periode waktu yang ditentukan (biasanya 48 jam), sistem secara otomatis akan mengirimkan notifikasi berupa email atau pesan teks kepada kontak darurat yang telah didaftarkan sebelumnya, sebagai tanda kemungkinan pengguna dalam bahaya .

Di balik aplikasi yang viral ini, terdapat tim pengembang kecil yang terdiri dari tiga orang generasi Z (kelahiran setelah tahun 1995) dari Henan, Tiongkok. Mereka membentuk perusahaan layanan teknis Yuejing pada Maret 2025 dan merilis Sileme tak lama setelahnya. Hebatnya, aplikasi yang kini bernilai fantastis ini dikembangkan dengan biaya awal yang sangat rendah, hanya sekitar 1.000 yuan (sekitar Rp 2,2 juta) dan rampung hanya dalam waktu satu bulan .

Pada 10 Januari lalu, Sileme mendadak melesat ke posisi puncak unduhan aplikasi berbayar. Kesuksesan mendadak ini sempat membuat kewalahan tim pengembang karena lalu lintas pengguna yang melonjak hingga lebih dari 100 kali lipat, meningkatkan biaya server dan operasional. Alhasil, harga aplikasi pun dinaikkan dari 1 yuan menjadi 8 yuan (sekitar Rp 18.000) untuk menutupi biaya tersebut . Tim pengembang mengaku tidak mengeluarkan biaya sepeser pun untuk pemasaran; popularitas aplikasi ini murni dari efek viral dan rasa penasaran publik .

Meski fungsionalitasnya diapresiasi, nama "Sileme" justru memicu perdebatan sengit di media sosial. Banyak pengguna menganggap nama tersebut terlalu vulgar, membawa sial, dan tidak sensitif secara budaya, mengingat budaya Asia Timur yang cenderung menghindari pembahasan langsung tentang kematian .

Komentar sinis juga bermunculan. Seorang pengguna media sosial menyindir, "Aplikasi ini tidak akan menyelamatkan saya saat kejadian, hanya akan memberi tahu orang lain bahwa saya sudah mati ketika jenazah saya mulai membusuk" . Namun, banyak juga yang membela dan menyebut aplikasi ini seperti "meme yang menjadi kenyataan" dan berhasil menyentuh kebutuhan nyata masyarakat modern yang rentan akan kesepian .

Menyikapi berbagai masukan dan sorotan media internasional, tim pengembang akhirnya mengambil langkah besar. Melalui akun resmi di Weibo, pada Selasa malam (13/1), mereka mengumumkan bahwa aplikasi Sileme akan berganti nama menjadi Demumu pada rilis berikutnya. "Demumu" sebenarnya sudah digunakan sebagai nama untuk versi internasional aplikasi tersebut .

"Setelah mempertimbangkan secara matang, aplikasi 'Sileme' akan secara resmi mengadopsi nama merek global 'Demumu' dalam perilisan baru yang akan datang," demikian pernyataan perusahaan. Mereka menegaskan bahwa ke depannya, Demumu akan tetap teguh pada misi pendiriannya untuk menjaga keselamatan, membawa solusi perlindungan asal Tiongkok ke seluruh dunia, dan melayani lebih banyak individu penyendiri secara global .

Ke depannya, tim pengembang berencana untuk terus menyempurnakan aplikasi dengan menambahkan fitur notifikasi SMS, pelacakan kesehatan, serta mengembangkan versi khusus dengan antarmuka yang lebih ramah untuk para pengguna lanjut usia .

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita