Bakteri Jadi 'Tukang Bangunan' di Bulan
- 13 Mar 2026 10:35 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Bagaimana cara memperbaiki dinding bangunan di Bulan yang retak akibat fluktuasi cuaca? Saat ini peneliti menemukan cara memanfaatkan mikroorganisme untuk memperbaiki bata di lingkungan luar angkasa.
Eksplorasi Bulan kini tidak lagi sekadar kunjungan singkat. Program seperti misi 'Artemis' dirancang untuk membangun habitat permanen manusia di Bulan. Hal ini memunculkan kebutuhan teknologi konstruksi yang dapat bekerja di luar angkasa.
Mengirim bahan bangunan dari Bumi sangat mahal dan tidak efisien. Karena itu, para ilmuwan mencoba memanfaatkan tanah Bulan sebagai bahan konstruksi. Pendekatan ini dapat mengurangi logistik dalam misi jangka panjang.
Laman Asian Scientist menyebut peneliti dari Indian Institute of Science sebelumnya mengembangkan teknik membuat bata dari tanah simulasi Bulan dan Mars. Teknik tersebut menggunakan bakteri tanah bernama Sporosarcina pasteurii. Mikroba ini membantu mengikat partikel tanah menjadi struktur padat.
Bakteri tersebut menghasilkan kalsium karbonat ketika bertemu urea dan kalsium. Senyawa itu kemudian mengikat partikel tanah, terutama jika dicampur dengan guar gum. Hasilnya adalah bata yang terbentuk secara biologis.
Untuk memperkuatnya, bata kemudian dipanaskan pada suhu sangat tinggi melalui proses sintering. Teknik klasik ini mampu menghasilkan bata dengan kekuatan sangat tinggi. Kekuatan tersebut bahkan cukup untuk kebutuhan konstruksi normal.
Namun, kondisi Bulan jauh lebih ekstrem dibanding Bumi. Suhu di permukaan dapat berubah drastis dari sekitar 121°C hingga minus 133°C. Perubahan suhu ini berpotensi merusak struktur bangunan.
Selain itu, batuan luar angkasa atau meteorit kecil dapat menyebabkan retakan pada bata. Jika retakan membesar, seluruh struktur bisa runtuh. Karena itu, ilmuwan mencari cara memperbaiki kerusakan tersebut secara otomatis.
Para peneliti kemudian menuangkan campuran bakteri, tanah simulasi Bulan, kalsium laktat, dan guar gum ke dalam retakan bata. Seiring waktu, bakteri menghasilkan kalsium karbonat yang menutup celah. Proses ini berhasil memulihkan sebagian besar kekuatan bata.
Menariknya, teknologi ini tidak hanya berguna untuk luar angkasa. Metode berbasis bakteri tersebut berpotensi menjadi alternatif ramah lingkungan pengganti semen di Bumi. Meski begitu, ilmuwan masih perlu meneliti bagaimana perilaku bakteri dalam kondisi luar angkasa sebenarnya.