Sejarah Cap Go Meh dalam Tradisi Tionghoa

  • 01 Mar 2026 21:57 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungailiat - Cap Go Meh merupakan perayaan yang menandai hari ke-15 sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek dalam tradisi Tionghoa. Istilah “Cap Go Meh” berasal dari dialek Hokkien yang berarti malam kelima belas.

Secara historis, perayaan ini berkaitan dengan Festival Lampion yang telah berlangsung sejak masa Dinasti Han di Tiongkok. Pada malam tersebut, masyarakat menyalakan lampion sebagai simbol harapan, doa, dan penerang kehidupan di tahun yang baru.

Di Indonesia, Cap Go Meh berkembang menjadi perayaan budaya yang memadukan tradisi Tionghoa dengan kearifan lokal. Sejumlah daerah menggelar pawai, pertunjukan barongsai, hingga atraksi budaya lainnya sebagai bagian dari peringatan tersebut.

Lina, warga Tionghoa di Sungailiat, mengatakan Cap Go Meh menjadi momen penting karena menandai berakhirnya seluruh rangkaian Imlek.

“Cap Go Meh itu malam ke-15, penutup perayaan Imlek yang biasanya dirayakan dengan meriah,” ujarnya dalam acara Begaya di Pro4 RRI Sungailiat, Minggu, 1 Maret 2026.

Sementara itu, Fendi menilai sejarah Cap Go Meh menunjukkan bagaimana tradisi yang berasal dari Tiongkok dapat berkembang dan tetap dilestarikan di berbagai daerah, termasuk di Indonesia.

“Sejarahnya panjang dan sampai sekarang masih dirayakan sebagai bagian dari budaya,” katanya.

Sejarah Cap Go Meh pun menjadi bagian dari kekayaan tradisi Tionghoa yang terus dipertahankan dan dirayakan hingga kini.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita