Pengertian Cap Go Meh dalam Tradisi Tionghoa

  • 01 Mar 2026 22:28 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungailiat - Cap Go Meh merupakan perayaan yang jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek dan menjadi penutup seluruh rangkaian perayaan tersebut. Istilah “Cap Go Meh” berasal dari dialek Hokkien, yakni “cap” berarti sepuluh, “go” berarti lima, dan “meh” berarti malam, sehingga secara harfiah dimaknai sebagai malam kelima belas.

Dalam tradisi Tionghoa, Cap Go Meh bertepatan dengan Festival Lampion yang dirayakan dengan menyalakan lampion, doa bersama, serta berbagai pertunjukan budaya. Perayaan ini melambangkan cahaya, harapan, dan doa untuk kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.

Winda, warga Sungailiat, mengatakan Cap Go Meh menjadi momen penting karena menandai berakhirnya masa perayaan Imlek.

“Setelah Cap Go Meh, rangkaian Imlek selesai. Biasanya kami berkumpul bersama keluarga,” ujarnya dalam acara Begaya di Pro4 RRI Sungailiat, Minggu, 1 Maret 2026.

Sementara itu, Herman, tokoh masyarakat setempat, menjelaskan bahwa di Indonesia Cap Go Meh juga berkembang menjadi perayaan budaya yang melibatkan berbagai kalangan.

“Selain tradisi keagamaan, ada juga pawai dan pertunjukan seni yang bisa dinikmati masyarakat luas,” katanya.

Dengan pengertian tersebut, Cap Go Meh tidak hanya dipahami sebagai penutup Imlek, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan, harapan, dan keberagaman budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita