Memahami Kedudukan Harta dalam Islam sebagai Amanah dan Ujian

  • 17 Feb 2026 06:59 WIB
  •  Sungailiat

RR.CO.ID, Sungailiat - Islam memandang harta bukan sekadar simbol kekayaan, tetapi sebagai amanah sekaligus ujian bagi setiap Muslim.

Dalam Dialog Mutiara Pagi Pro 1 RRI Sungailiat Ust. Syaiful Zohri menjelaskan bahwa pada hakikatnya seluruh harta yang dimiliki manusia adalah titipan dari Allah SWT. Karena itu, cara memperoleh, menggunakan, dan membelanjakannya akan dimintai pertanggungjawaban.

“Harta itu bukan milik mutlak kita. Semua adalah amanah dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan,” katanya, Selasa 17 Februari 2026.

Ia menegaskan, Islam tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya. Namun, kekayaan harus diraih dengan cara yang halal dan dikelola sesuai dengan tuntunan syariat.

“Menjadi kaya tidak dilarang dalam Islam. Yang terpenting adalah bagaimana harta itu tidak membuat kita lalai dari ibadah, tidak menjadikan kita sombong, dan tetap peduli kepada sesama,” katanya.

Menurutnya, harta memiliki fungsi sosial yang sangat kuat dalam Islam. Kewajiban zakat, anjuran infak dan sedekah menjadi bukti bahwa dalam setiap harta terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan.

“Di dalam harta kita ada hak fakir miskin dan mereka yang membutuhkan. Ketika zakat dan sedekah ditunaikan, harta itu menjadi bersih dan membawa keberkahan,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak menjadikan harta sebagai tujuan utama kehidupan. Harta seharusnya menjadi sarana untuk beribadah dan berbuat kebaikan.

Salah satu pendengar RRI Sungailiat, Rahmat dari Belinyu, mengaku tercerahkan dengan penjelasan tersebut. Ia menyampaikan bahwa selama ini sering memandang harta semata-mata sebagai ukuran keberhasilan.

“Setelah mendengar penjelasan tadi, saya jadi lebih paham bahwa harta itu ujian. Bukan soal banyak atau sedikitnya, tapi bagaimana kita mengelolanya,” ungkapnya.

Pemahaman tentang kedudukan harta dalam Islam diharapkan mampu membentuk sikap bijak dalam bekerja, berusaha, dan membelanjakan rezeki.

Dengan kesadaran tersebut, umat Islam diharapkan tidak hanya berorientasi pada pengumpulan harta, tetapi juga pada keberkahan dan nilai ibadah dalam setiap aktivitas ekonomi yang dijalani.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita