Puasa Aman bagi Penderita Maag Ringan

  • 25 Feb 2026 08:44 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungailiat - Umat Muslim tetap bisa menjalankan ibadah puasa meskipun memiliki riwayat maag atau gangguan kesehatan ringan. Kekhawatiran akan kambuhnya nyeri lambung sering kali membuat sebagian orang ragu.

Menurut dr. Inda Sumerah, puasa tetap bisa dilakukan selama kondisi terkontrol dan pasien memahami cara menjaga pola makan dengan benar.

dr. Inda Sumerah menjelaskan bahwa maag atau dispepsia pada dasarnya berkaitan dengan pola makan yang tidak teratur, konsumsi makanan terlalu pedas, asam, serta stres berlebihan. Saat berpuasa, justru pola makan menjadi lebih teratur karena hanya dilakukan saat sahur dan berbuka.

“Yang terpenting adalah tidak melewatkan sahur dan memilih makanan yang ramah bagi lambung,” ujarnya dalam wawancara di klinik Syafie Pratama, Selasa 24 Februari 2026.

Ia menambahkan, penderita maag ringan disarankan menghindari makanan tinggi lemak, terlalu pedas, dan minuman berkafein saat sahur maupun berbuka. Sebaiknya, berbuka dengan air putih dan makanan ringan seperti kurma, kemudian beri jeda sebelum makan besar. Pola ini membantu lambung beradaptasi setelah hampir 14 jam tidak terisi makanan.

Selain itu, dr. Inda juga menyarankan bagi pasien yang rutin mengonsumsi obat lambung seperti omeprazole atau antasida untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Penyesuaian waktu minum obat biasanya dapat dilakukan, misalnya dikonsumsi sebelum sahur atau menjelang berbuka, sesuai anjuran medis.

“Jangan menghentikan obat tanpa arahan dokter, ini untuk antispasi agar keluhan tidak muncul tiba tiba” tegasnya.

Sementara itu, Intan (34), seorang pasien maag yang telah lima tahun mengalami gangguan asam lambung, mengaku sempat takut menjalani puasa. Ia sering merasakan nyeri hingga ke punggung jika telat makan. Namun, setelah berkonsultasi dan mengatur pola makan sesuai saran dokter, ia merasa puasanya tahun ini berjalan lancar.

“Awalnya saya khawatir, tapi ternyata kalau sahur cukup, minum obat sebelum makan, dan tidak langsung makan berat saat berbuka, maag saya tidak kambuh,” tutur Intan. Ia juga menghindari gorengan dan kopi selama Ramadan, serta memperbanyak konsumsi sayur dan protein rendah lemak.

Menurut dr. Inda, tanda-tanda puasa harus dihentikan antara lain jika muncul nyeri hebat, muntah terus-menerus, pusing berat, atau lemas berlebihan. Dalam kondisi tersebut, pasien dianjurkan segera berbuka dan mencari pertolongan medis. Puasa tidak boleh memaksakan diri jika kondisi tubuh tidak memungkinkan.

Dengan edukasi dan pengawasan yang tepat, penderita maag ringan tetap dapat menjalankan ibadah puasa dengan aman dan nyaman. Kunci utamanya adalah disiplin menjaga pola makan, mengelola stres, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar ibadah tetap lancar tanpa mengorbankan kesehatan.

Rekomendasi Berita