Bagi-Bagi Angpau Tradisi di Perayaan Imlek

  • 14 Feb 2026 10:20 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungailiat - Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan tradisi berbagi angpau, amplop merah berisi sejumlah uang yang diberikan sebagai simbol doa dan harapan baik. Tradisi ini masih terus dilestarikan oleh masyarakat Tionghoa di berbagai daerah, termasuk di Desa Rebu dan Lubuk Kelik. Angpau bukan sekadar pemberian materi, melainkan bentuk kasih sayang, keberkahan, serta harapan akan rezeki dan keberuntungan di tahun yang baru.

Nominal angpau yang diberikan biasanya bervariasi, tergantung kemampuan pemberi serta kedekatan hubungan keluarga. Ce Mitha, warga Rebu, mengatakan bahwa tidak ada aturan baku mengenai jumlah uang yang harus dimasukkan ke dalam angpau.

“Biasanya kami menyesuaikan dengan kondisi keuangan. Untuk anak-anak bisa mulai dari Rp20 ribu, Rp50 ribu, sampai Rp100 ribu. Kalau untuk keponakan atau keluarga dekat, bisa lebih,” ujarnya.

Ia menambahkan, angka genap lebih sering dipilih karena dipercaya membawa keberuntungan, sementara angka empat cenderung dihindari.

Sementara itu, Ce Ami, warga Lubuk Kelik, menyebutkan bahwa tradisi angpau juga mengikuti kebiasaan turun-temurun dalam keluarga.

“Di keluarga kami, angpau untuk anak-anak sekolah biasanya Rp50 ribu atau Rp100 ribu. Kalau sudah remaja atau kuliah, bisa Rp100 ribu sampai Rp300 ribu, tergantung kemampuan yang memberi,” jelasnya.

Menurutnya, yang terpenting bukan besarannya, melainkan doa dan niat baik yang menyertai pemberian tersebut.

Dalam tradisi Imlek, angpau umumnya diberikan oleh mereka yang sudah menikah kepada yang belum menikah. Artinya, pasangan suami istri memiliki kewajiban moral untuk berbagi rezeki kepada anak-anak, remaja, serta orang dewasa yang masih lajang. Mereka yang belum menikah biasanya menjadi penerima angpau, tanpa memandang usia. Selama seseorang belum menikah, ia masih berhak menerima angpau dari keluarga yang sudah berkeluarga.

Namun, dalam beberapa keluarga, terdapat sedikit perbedaan kebiasaan. Ce Mitha menuturkan bahwa ada juga orang tua atau kakek-nenek yang tetap memberikan angpau kepada anaknya meski sudah menikah, sebagai simbol doa dan restu.

“Biasanya itu bentuk kasih sayang orang tua. Jadi walaupun anaknya sudah berumah tangga, tetap diberi angpau sebagai tanda berkat,” katanya.

Selain keluarga inti, angpau juga sering diberikan kepada kerabat jauh, tetangga, bahkan anak-anak di lingkungan sekitar yang datang bersilaturahmi saat perayaan Imlek. Ce Ami menambahkan bahwa momen ini juga menjadi ajang mempererat hubungan sosial.

“Anak-anak biasanya senang sekali datang ke rumah-rumah untuk mengucapkan Gong Xi Fa Cai. Suasananya ramai dan hangat,” tuturnya.

Dengan berbagai variasi nominal dan kebiasaan tersebut, tradisi angpau tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek. Lebih dari sekadar amplop berisi uang, angpau mencerminkan semangat berbagi, kebersamaan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.

Rekomendasi Berita