Memahami Paribasan, Bebasan, dan Saloka

  • 12 Mar 2026 13:03 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Bahasa Jawa memiliki kekayaan ungkapan yang sarat makna seperti paribasan, bebasan, dan saloka. Topik ini menjadi sorotan dalam siaran Sinau Basa Jawa di Radio Republik Indonesia Pro 4 Surabaya, Kamis, 12 Maret 2026.

Menghadirkan narasumber Rahmad Budi Utomo, Ketua DPW Persatuan Pambiwara Indonesia (PEPARI) Jawa Timur. Ia menjelaskan bahwa ketiga bentuk ungkapan itu merupakan bagian penting dari kearifan bahasa Jawa.

Menurut Rahmad Budi Utomo, masyarakat Jawa sejak dahulu menggunakan ungkapan tersebut untuk menyampaikan nasihat dengan cara halus. “Dalam bahasa Jawa ada tiga, yaitu paribasan, bebasan dan saloka,” ujarnya dalam siaran tersebut.

Ia menjelaskan, paribasan merupakan ungkapan tetap yang memiliki makna nasihat tanpa menggunakan perumpamaan. Paribasan biasanya langsung menyampaikan pesan moral dalam bentuk kalimat yang sudah dikenal masyarakat.

“Paribasan adalah ungkapan langsung tanpa perumpamaan, tetapi mengandung nasihat yang baik untuk kehidupan.” jelas Rahmad. Ia menambahkan bahwa ungkapan ini sering dipakai dalam percakapan maupun karya sastra Jawa.

Rahmad kemudian memberi contoh paribasan yang dikenal luas di masyarakat. “Contohnya, ‘anak polah bapa kepradah’, Artinya, tingkah laku anak dapat membawa akibat kepada orang tuanya,” katanya.

Sementara itu, bebasan memiliki ciri menggunakan perumpamaan atau pepindan untuk menggambarkan suatu keadaan. Ungkapan ini biasanya dipakai untuk memperjelas karakter atau hubungan antarorang.

“Jika bebasan menggunakan perumpamaan, contohnya ‘seperti air dan minyak’, artinya dua orang yang tidak bisa bersatu," terang Rahmad. Perumpamaan tersebut menggambarkan dua hal yang sulit dipersatukan.

Adapun saloka merupakan ungkapan yang maknanya lebih dalam dan sering membutuhkan penafsiran. Saloka biasanya berbentuk kalimat simbolik yang mengandung pesan filosofis.

“Saloka memiliki makna yang lebih dalam dan terkadang sulit dipahami jika tidak ditafsirkan terlebih dahulu,” ujarnya. Karena itu saloka sering dipakai dalam karya sastra atau petuah tradisional.

Rahmad menambahkan bahwa paribasan, bebasan, dan saloka pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu menyampaikan nasihat secara tidak langsung. Cara tersebut dianggap lebih halus dan mudah diterima dalam budaya Jawa.

“Tujuan paribasan, bebasan, dan saloka adalah untuk memberikan nasihat dengan cara yang halus, agar orang yang mendengarnya lebih mudah menerima,” katanya.

Di akhir dialog, Rahmad berharap generasi muda tetap mempelajari kekayaan bahasa Jawa tersebut. Ia menilai ungkapan tradisional itu bukan sekadar kata-kata, melainkan juga warisan nilai kehidupan.

Rekomendasi Berita