Teknik Pomodoro, Metode Belajar agar Tidak Cepat Lelah

  • 25 Feb 2026 13:19 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Merasa waktu 24 jam tidak pernah cukup untuk belajar atau menyelesaikan tugas? atau sering merasa bosan dan cepat lelah ketika belajar? Teknik Pomodoro bisa menjadi solusi sederhana untuk membantu meningkatkan fokus dan mengurangi distraksi.

Di era notifikasi tanpa henti dan distraksi digital, menjaga fokus menjadi tantangan besar bagi pelajar maupun pekerja. Salah satu metode yang kembali populer untuk mengatasi masalah ini adalah Teknik Pomodoro, sistem manajemen waktu yang membagi kerja dalam interval singkat namun terstruktur.

Teknik ini diperkenalkan oleh Francesco Cirillo pada akhir 1980-an. Konsepnya sederhana: bekerja fokus selama 25 menit, lalu beristirahat lima menit. Setelah empat sesi, pengguna mengambil jeda lebih panjang sekitar 15–30 menit.

Sumber Gambar : personal-development-zone.com

Ada 6 langkah yang perlu dilakukan dalam teknik Pomodoro:

  1. Menentukan tugas atau pekerjaan yang akan dilakukan.
  2. Menyiapkan dan mengatur timer Pomodoro (biasanya 25 menit).
  3. Kerjakan tugas atau pekerjaan tersebut, tanpa ada distraksi sama sekali.
  4. Setelah timer berbunyi, berhentilah bekerja, kemudian buat tanda centang pada selembar kertas.
  5. Gunakan jeda waktu selama 3-5 menit ini untuk beristirahat atau boleh mengecek notifikasi di ponsel dan membalas chat. Setelah waktu habis bisa kembali bekerja.
  6. Setelah 4 tanda centang atau 4 Pomodoro, bisa beristirahat lebih lama sekitar 15-30 menit.

Secara psikologis, metode ini selaras dengan cara kerja otak manusia dalam mempertahankan perhatian. Penelitian tentang attention span menunjukkan bahwa fokus intens dalam durasi tertentu lebih efektif dibanding bekerja tanpa jeda dalam waktu lama. Interval 25 menit menciptakan rasa urgensi yang memicu otak untuk masuk ke kondisi deep work atau kerja mendalam.

Selain itu, sistem jeda teratur membantu mencegah mental fatigue atau kelelahan kognitif. Dalam ilmu neurosains, otak membutuhkan fase istirahat singkat untuk mengkonsolidasikan informasi dan memulihkan energi mental. Tanpa jeda, produktivitas justru menurun meski waktu kerja lebih panjang.

Efektivitas teknik ini juga diuji secara pengalaman oleh jurnalis Kat Boogaard dalam artikelnya di The Muse yang diperbarui 1 Agustus 2024. Ia mengaku awalnya skeptis terhadap berbagai “trik produktivitas” dan terbiasa bekerja berjam-jam tanpa istirahat.

Namun setelah mencoba selama satu minggu, Boogaard justru merasakan peningkatan fokus. “Saya tidak lagi tanpa sadar menggulir media sosial,” tulisnya. Timer 25 menit membuatnya terdorong menyelesaikan tugas secara lebih terarah dan minim gangguan.

Dari sisi perilaku, teknik ini juga membantu mengurangi kecenderungan multitasking. Psikolog kognitif menyebutkan bahwa multitasking sebenarnya membuat otak berpindah-pindah fokus secara cepat, yang justru menurunkan kualitas kerja. Dengan Pomodoro, seseorang dipaksa hanya mengerjakan satu tugas dalam satu interval.

Meski demikian, teknik ini tidak selalu fleksibel untuk pekerjaan yang dipenuhi rapat atau panggilan mendadak. Boogaard mengakui ia harus menonaktifkan timer saat pertemuan berlangsung, lalu melanjutkannya kembali setelah selesai.

Pada akhirnya, Teknik Pomodoro bukan sekadar membagi waktu, tetapi melatih kebiasaan fokus dan kesadaran terhadap energi mental. Dengan memahami cara kerja otak dan memberi ruang jeda yang cukup, produktivitas bukan lagi soal bekerja lebih lama, melainkan bekerja lebih cerdas.

Referensi:

Boogaard, Kat. 2024. The Pomodoro Technique Really Works, Says a Skeptic of Productivity Tricks. The Muse.(www.themuse.com)

https://sciencehunter.id/podomoro-technique-solusi-manajemen-waktu-untuk-belajar-yang-menyenangkan (Hil)

Rekomendasi Berita