Sate Kere, Kuliner Khas Kota Solo yang Menembus Kaum Bangsawan

  • 06 Mar 2026 10:59 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID,Surakarta - Berburu makanan khas, menjadi kegiatan yang selalu dilakukan para pemudik saat Lebaran pulang kampung ke Kota Solo. Salah satu makanan khas yang sering dicari ‘Sate Kere’ salah satu kuliner spesial Kota Solo.

Kata kere dalam bahasa Jawa artinya miskin papa, sehingga sate kere secara harafiah berarti sate yang disantap orang-orang kere atau miskin. Memang sejatinya begitulah riwayat histori sate kere yang pekat dengan nasib getir perjuangan kelas bawah.

Sejarawan Kota Solo Heri Priyatmoko meceritakan, bermula dari gajih atau gemook yang disingkirkan dari abattoir atau tempat pembelehan di Jagalan Solo pada zaman penjajahan Belanda. Lantas dimanfaatkan wong cilik yang tak sanggup belanja daging, ataupun tak pernah menikmati sate daging yang biasa dilahap tuan putih ( sebutan untuk warga Belanda), bangsawan dan saudagar.

Menurut Heri Priyatmoko, kantong cekak bikin warga pribumi miskin hanya menelan ludah. Dengan segenap kreativitas dan merawat angan menyantap sate bahan buangan bersama gembus (ampas tahu ) diolah di pawon. Secara filosofi, sate kere yang juga dikenal dengan sate gembus merupakan bentuk budaya tanding wong cilik terhadap orang kaya, di bidang kuliner.

“Sate kere bukti budaya tanding wong cilik terhadap kaum priyayi orang berduit, saat orang kaya menyantap sate kambing dengan harga mahal. Akhirnya wong cilik punya siasat keatifitas memakan bahan-bahan yang dibuang. Misalkan tempe gembus dan jerohan untuk diolah, yang kemudian disebut disebut sate kere,” kata Heri yang juga dosen Universitas Sanata Darma Yogjakarta kepada rri.co,id, Kamis, 5 Maret 2026.

Terbukti kreativitas mereka mampu menghasilkan produk kuliner yang enak. Sate gembus kemudian popular dikenal sate kere ini kemudian sate ini dijajakan secara keliling dari rumah ke rumah bahkan menembus kediaman para bangsawan.

“Jadi bahan-bahan buangan yang dijauhi di pawon (dapur) bangsawan, pawon Eropa, ditemu orang-orang miskin kemudian diolah, menjadi makanan yang lezat” ungkap Heri lebih lanjut.

Ciri khas sate ini selain dari bahan dan rasanya, juga cara menjual. Mbok-mbok bakul membawa dagangannya dengan disunggi atau ditaruh di atas kepala menggunakan blungker Dibuat dari kain yang digulung-gulung, kemudian diberi tali dan dijepit dengan biting atau tusuk dari bilah.

Namun sekarang ini, sudah jarang sekali yang menjajakan sate kere dengan blungker. Kebanyakan didorong dengan gerobak atau malah membuka warung secara permanen. ( Wida)

Rekomendasi Berita