Bukuran Deklarasi Desa Wisata, Angkat Perpaduan Tradisi-Eksotika Batik

  • 18 Feb 2026 09:52 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN - Kawasan Situs Purbakala Sangiran di Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, resmi menyandang status sebagai Rintisan Desa Wisata. Pemerintah Desa setempat melaksanakan deklarasi desa wisata Selasa 17 Februari 2026.

Peresmian ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan (SK) oleh Bupati Sragen ini berlangsung meriah. Tak hanya seremoni di atas kertas, para pejabat dan tokoh masyarakat, termasuk anggota Komisi V DPR RI, terjun langsung melakukan aksi petik melon di area agrowisata setempat.

Pemerintah Desa Bukuran tak ingin sekadar mengekor desa Krikilan, yang sudah lebih dulu moncer dalam pariwisata. Bukuran tampil percaya diri dengan mengawinkan potensi alam, sejarah purba, hingga atraksi budaya yang unik.

Desa Bukuran Kecamatan Kalijambe mendeklarasikan Desa Wisata ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan (SK) oleh Bupati Sragen, Selasa 17 Februari 2026. (Foto: RRI/Mulato Ishaan)

Kepala Desa Bukuran, Heriyanto, menegaskan bahwa identitas desa ini dibangun di atas fondasi kreativitas warga. Salah satu yang paling ikonik adalah kesenian Gejog Lesung atau klote’an lesung.

"Itu budaya asli warga kami. Dulu, ibu-ibu memukul lesung saat lelah menumbuk gaplek (singkong kering). Kini, harmoni suara kayu itu kami transformasi menjadi daya tarik wisata budaya," ujar Heriyanto.

Selain lesung, kesenian Rodat yang legendaris juga tetap dilestarikan oleh para sesepuh desa sebagai warisan religi dan kebersamaan.

Loncatan besar juga terlihat di sektor ekonomi kreatif. Selama puluhan tahun, warga Bukuran identik sebagai buruh atau "kuli batik". Namun, kini paradigma itu diubah.

Desa mulai memproduksi Batik Purba dengan brand sendiri. Motifnya pun spesifik, perpaduan antara siluet manusia purba dan temuan fosil yang menjadi ciri khas geografis mereka.

Soal kenyamanan, Pemdes Bukuran menjamin tak akan ada cerita miring soal pungutan liar (pungli) atau tarif parkir "nuthuk". Pengelolaan SDM dilakukan satu komando melalui Peraturan Desa (Perdes). Dengan sinergi apik antara agrowisata melon, kerajinan batok kelapa, air asin, hingga wisata budaya, Desa Bukuran optimistis menjadi permata baru di Bumi Sukowati.

Anggota Komisi V DPR RI dari Dapil IV Jateng Sriyanto Saputro menghadiri deklarasi Desa Wisata Bukuran Kecamatan Kalijambe, Sragen, Selasa 17 Februari. (Foto: RRI/Mulato Ishaan)

Dukungan politik pun mengalir deras. Anggota Komisi V DPR RI Sriyanto Saputro yang hadir dalam kunjungan keempatnya ke desa tersebut menyatakan kebanggaannya. Sebagai mitra Kementerian Desa, pihaknya berkomitmen mengupayakan intervensi pusat.

"Saya tidak berjanji, tapi saya akan berikhtiar agar ada dukungan nyata dari pusat. Jika desa wisatanya maju, manfaatnya harus kembali ke masyarakat melalui BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih," tegasnya.

Gayung bersambut, legislatif tingkat kabupaten telah menyiapkan "karpet merah" lewat dukungan infrastruktur. Anggota DPRD Sragen, Widodo, membeberkan bahwa anggaran tahun 2026 telah dialokasikan untuk pelebaran jalan di jalur Krikilan hingga Manyarejo.

"Tujuannya adalah konektivitas. Wisatawan yang ke Museum Sangiran harus bisa dengan mudah menjangkau Bukuran. Kami ingin menciptakan ekosistem di mana wisatawan bisa menginap di homestay warga dan menikmati seluruh paket wisata ini," ucap Widodo. MI

Rekomendasi Berita