Batamang Explorer, Gunung Awu Simbol Identitas Masyarakat Sangihe
- 24 Jan 2026 17:22 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna - Gunung Awu di Kepulauan Sangihe bukan sekadar puncak tertinggi, melainkan simbol adat dan identitas bagi masyarakat setempat. Hal ini diungkapkan oleh komunitas Batamang Explorer saat berbagi pengalaman dalam program Obrolan Kreatif Sore Ceria Pro2 RRI Tahuna, Sabtu (24/1/2026).
Kelompok pendaki yang terdiri dari Rocky, Aldo, Axl, Yume, Epid, Anciz, dan Jenly ini membedah daya tarik gunung api aktif tersebut dari sudut pandang generasi muda. Bagi mereka, mendaki Gunung Awu adalah sebuah kewajiban moral untuk mengenal akar budaya sendiri.
Rocky, salah satu personil Batamang Explorer, menyebut bahwa kata "Awu" sangat identik dengan kekayaan adat dan budaya. Ia menegaskan bahwa setiap anak muda, terutama yang memiliki darah Sangihe, setidaknya harus sekali seumur hidup melakukan summit atau mencapai puncak Awu.
"Ini adalah target yang harus dicapai. Setidaknya satu kali kita harus menginjakkan kaki di gunung Awu sebagai bentuk penghormatan terhadap darah Sangihe yang mengalir di tubuh kita," ujar Rocky.
Senada dengan itu, Aldo dan Yume menambahkan bahwa saat melakukan pendakian ke Gunung Awu, mereka merasa seperti sedang "pulang kampung".
Dalam ekspedisi terbarunya, Batamang Explorer memilih Jalur Budayawan yang dimulai dari Kampung Mala, Kecamatan Tabukan Utara. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 5 jam pendakian menuju puncak dan 5 jam untuk perjalanan turun.
Axl menggambarkan keindahan kawah Gunung Awu yang memukau dengan hamparan hijau yang masih sangat asri."Kawahnya sangat cantik dan indah. Hamparan hijau di sekelilingnya memberikan suasana yang tenang dan alami," ungkapnya.
Meskipun menawarkan pesona alam yang luar biasa, komunitas ini mengingatkan para calon pendaki untuk tetap mengedepankan faktor keselamatan. Masyarakat dan pecinta alam diimbau untuk selalu memeriksa situs resmi MAGMA Indonesia dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebelum merencanakan pendakian.