Apa Itu Panic Buying dan Mengapa Terjadi saat Krisis?
- 05 Mar 2026 05:15 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Fenomena panic buying kembali menjadi perhatian publik setiap kali muncul isu krisis, baik akibat bencana alam, gejolak ekonomi, maupun situasi darurat kesehatan seperti pandemi COVID-19. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan panic buying?
Secara sederhana, panic buying adalah perilaku membeli barang dalam jumlah besar secara tiba-tiba karena rasa takut akan kelangkaan atau kenaikan harga di masa depan. Aksi ini biasanya dipicu oleh kekhawatiran masyarakat terhadap situasi yang dianggap mengancam kestabilan pasokan kebutuhan pokok.
Fenomena ini baru saja terjadi Rabu 4 Maret 2026 di wilayah kota Takengon,Aceh Tengah. Warga panik saat mendapatkan informasi yang belum pasti akan adanya kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) sehingga antrian panjang terjadi seketika disetiap ruas jalan titik SPBU di kota Takengon . Bahkan masyarakat berbondong - bondong membeli bahan makanan pokok seperti Beras, Minyak Goreng, Telur dan lain-lainnya.

Pakar perilaku konsumen menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya panic buying, antara lain:
- Ketidakpastian informasi – Beredarnya kabar yang belum tentu benar dapat memicu kepanikan.
- Rasa takut kekurangan – Kekhawatiran barang akan habis di pasaran.
- Efek ikut-ikutan (herd behavior) – Melihat orang lain membeli dalam jumlah banyak dapat mendorong tindakan serupa.
- Kurangnya kepercayaan terhadap distribusi – Ketika masyarakat ragu terhadap kemampuan pemerintah atau distributor menjaga pasokan.
Perilaku panic buying dapat menimbulkan kelangkaan barang secara sementara, bahkan ketika stok sebenarnya masih mencukupi. Akibatnya, harga bisa melonjak dan kelompok masyarakat rentan kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar.
Pemerintah dan pelaku usaha biasanya merespons dengan memastikan ketersediaan stok serta mengimbau masyarakat untuk tetap berbelanja secara bijak. Transparansi informasi dan komunikasi yang jelas dinilai menjadi kunci untuk meredam kepanikan.
Dengan memahami apa itu panic buying dan dampaknya, masyarakat diharapkan dapat lebih tenang dan rasional dalam menghadapi situasi darurat, sehingga stabilitas pasokan dan harga tetap terjaga dan jangan panik.