Bukan Stop Nasi, Ini Karbohidrat Terbaik Diet

  • 19 Feb 2026 14:24 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : Karbohidrat kerap menjadi “tersangka utama” saat berat badan naik. Tak sedikit orang langsung memangkas nasi, roti, hingga mie demi menurunkan angka di timbangan. Padahal, menurut para ahli gizi, bukan semua karbohidrat yang perlu dihindari. Justru, memilih jenis karbohidrat yang tepat bisa membantu proses penurunan berat badan lebih efektif dan sehat. Kunci utamanya bukan sekadar mengurangi karbohidrat, melainkan beralih ke karbohidrat kompleks yang kaya serat dan memiliki indeks glikemik rendah.

Karbohidrat Kompleks Jadi Andalan

Karbohidrat kompleks seperti gandum utuh, beras merah, oat, quinoa, hingga umbi-umbian cenderung dicerna lebih lambat oleh tubuh. Proses cerna yang lebih panjang membuat kadar gula darah lebih stabil dan rasa kenyang bertahan lebih lama.

Penelitian dalam The American Journal of Clinical Nutrition yang dikutip dari sciencedirect menemukan bahwa konsumsi biji-bijian utuh meningkatkan metabolisme dan pembakaran kalori lebih tinggi dibandingkan konsumsi biji-bijian olahan, yang memiliki indeks glikemik lebih tinggi. Konsumsi biji-bijian utuh juga berhubungan dengan penurunan lemak tubuh yang lebih signifikan.

Penelitian tersebut menunjukkan partisipan yang mengonsumsi whole grains mengalami peningkatan pengeluaran energi harian serta penurunan lemak tubuh dibanding kelompok yang mengonsumsi refined grains.

Serat Tinggi Bantu Kontrol Nafsu Makan

Selain itu, riset dalam Annals of Internal Medicine mengungkap bahwa peningkatan asupan serat saja—tanpa perubahan diet yang rumit—sudah cukup membantu penurunan berat badan secara signifikan. Dalam studi tersebut, peserta yang menargetkan konsumsi minimal 30 gram serat per hari mengalami penurunan berat badan, tekanan darah, serta peningkatan sensitivitas insulin.

Serat bekerja dengan memperlambat pengosongan lambung dan menekan lonjakan gula darah, sehingga dorongan untuk makan berlebihan bisa ditekan.

Indeks Glikemik Rendah Lebih Stabilkan Gula Darah

Konsep indeks glikemik (IG) juga menjadi perhatian. Makanan dengan IG rendah seperti oat utuh, kacang-kacangan, dan ubi cenderung tidak menyebabkan lonjakan gula darah drastis. Hal ini penting karena lonjakan gula darah yang cepat dapat memicu rasa lapar lebih cepat.

Dalam studi JAMA Internal Medicine, peneliti membandingkan beberapa diet dengan beban glikemik berbeda pada orang dewasa kelebihan berat badan dan obesitas. Hasilnya menunjukkan bahwa diet dengan beban glikemik yang moderat ditambah serat tinggi (±30 gram per hari) cenderung meningkatkan laju penurunan lemak tubuh lebih baik, serta memberikan respons gula darah yang lebih stabil daripada sekadar mengurangi kalori tanpa memperhatikan indeks glikemik makanan.

Meta-analisis dalam The Lancet menunjukkan pola makan tinggi serat dan biji-bijian utuh berhubungan dengan penurunan risiko obesitas, diabetes tipe 2, serta penyakit kardiovaskular.

Bukan Nol Karbohidrat

Para ahli menekankan, diet ekstrem tanpa karbohidrat bukan solusi jangka panjang. Tubuh tetap membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi utama, terutama untuk fungsi otak dan aktivitas harian. Yang perlu dihindari justru karbohidrat sederhana dan olahan tinggi gula seperti roti putih, minuman manis, kue, serta camilan ultra-proses. Jenis ini cepat diserap tubuh, memicu lonjakan insulin, dan meningkatkan penyimpanan lemak bila dikonsumsi berlebihan.

Jika ingin menurunkan berat badan, fokuslah pada:

  • Karbohidrat kompleks (beras merah, oat, gandum utuh)
  • Asupan serat minimal 25–30 gram per hari
  • Makanan dengan indeks glikemik rendah
  • Pengurangan karbohidrat olahan dan tinggi gula

Alih-alih memusuhi karbohidrat, strategi yang lebih tepat adalah memilih kualitasnya. Dengan kombinasi pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, dan pemilihan karbohidrat yang cermat, proses penurunan berat badan bisa berlangsung lebih sehat dan berkelanjutan.




Rekomendasi Berita