Panduan Simpan Bahan Makanan Selama Ramadhan

  • 23 Feb 2026 11:31 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : Memasuki bulan Ramadhan, banyak keluarga memilih berbelanja bahan makanan dalam jumlah lebih besar untuk persiapan sahur dan berbuka. Pola belanja ini memang praktis, namun tanpa teknik penyimpanan yang tepat, risiko bahan cepat rusak dan terbuang menjadi lebih tinggi. Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa cara penyimpanan yang benar berperan besar dalam menjaga kualitas dan keamanan pangan, terutama untuk buah, sayur, serta makanan siap santap.

Penyimpanan Tepat Perpanjang Umur Simpan

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia, Food and Agriculture Organization (FAO), dalam laporan globalnya menyebutkan bahwa sekitar sepertiga pangan dunia terbuang setiap tahun, dan salah satu penyebab utamanya adalah penyimpanan yang tidak memadai di tingkat rumah tangga. Sementara itu, penelitian dalam jurnal Postharvest Biology and Technology menemukan bahwa pengaturan suhu dingin yang stabil dapat memperlambat respirasi dan proses pematangan buah serta sayuran, sehingga memperpanjang masa simpannya secara signifikan. Studi lain yang dipublikasikan dalam Journal of Food Protection menegaskan bahwa penyimpanan makanan pada suhu kulkas di bawah 5 derajat Celsius mampu menekan pertumbuhan bakteri patogen seperti Salmonella dan Listeria, yang kerap berkembang pada makanan matang yang tidak disimpan dengan benar. Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan suhu dan kelembapan bukan sekadar menjaga tampilan bahan tetap segar, tetapi juga berhubungan langsung dengan aspek keamanan konsumsi.

Perilaku Penyimpanan Makanan di Rumah Tangga

Survei keamanan pangan yang dilakukan oleh Food Standards Agency (FSA) di Inggris menunjukkan bahwa lebih dari 40 persen responden mengaku sering menyimpan makanan matang di suhu ruang lebih lama dari yang direkomendasikan. Di sisi lain, studi perilaku konsumen yang dirilis oleh United States Department of Agriculture (USDA) menemukan bahwa banyak rumah tangga belum menerapkan prinsip first in, first out (FIFO), sehingga bahan lama sering terlupakan dan berujung terbuang. Meski survei tersebut dilakukan di luar Indonesia, para peneliti menyebut pola serupa juga ditemukan di berbagai negara berkembang, terutama saat periode hari besar keagamaan ketika aktivitas memasak meningkat tajam.

Agar stok dapur tetap terjaga hingga waktu sahur dan berbuka, berikut sejumlah tips menyimpan bahan makanan selama Ramadhan supaya tetap segar lebih lama.

1. Pisahkan Buah dan Sayur Sesuai Karakternya

Tidak semua buah dan sayur bisa disimpan dengan cara yang sama. Beberapa buah seperti pisang, apel, dan alpukat menghasilkan gas etilen yang dapat mempercepat pematangan dan pembusukan sayuran di sekitarnya. Simpan buah-buahan tersebut terpisah dari sayur berdaun seperti bayam, selada, atau kangkung. Gunakan laci khusus buah dan sayur di dalam kulkas agar kelembapan tetap terjaga sesuai kebutuhannya.

2. Jangan Langsung Cuci Semua Sayuran

Banyak orang terbiasa mencuci sayur sebelum disimpan. Padahal, sayuran yang disimpan dalam kondisi basah lebih rentan membusuk karena kelembapan berlebih memicu pertumbuhan bakteri dan jamur. Sebaiknya simpan sayuran dalam kondisi kering. Cuci hanya saat akan diolah. Jika terlanjur dicuci, pastikan sayuran benar-benar kering sebelum dimasukkan ke dalam wadah tertutup atau kantong penyimpanan.

3. Gunakan Wadah Kedap Udara

Sisa makanan berbuka seperti lauk, takjil, atau makanan bersantan sebaiknya segera dipindahkan ke wadah tertutup rapat sebelum dimasukkan ke kulkas. Wadah kedap udara membantu menjaga rasa, tekstur, serta mencegah kontaminasi silang dengan bahan lain. Untuk makanan berkuah atau bersantan, pastikan sudah berada pada suhu ruang sebelum disimpan agar tidak memicu kenaikan suhu di dalam kulkas.

4. Atur Suhu Kulkas dengan Tepat

Suhu kulkas ideal berada di kisaran 3–5 derajat Celsius, sedangkan freezer di bawah minus 18 derajat Celsius. Suhu yang terlalu tinggi membuat makanan cepat rusak, sementara suhu terlalu rendah pada kompartemen tertentu bisa membuat sayur membeku dan rusak teksturnya. Selama Ramadhan, frekuensi buka-tutup kulkas biasanya meningkat saat sahur dan berbuka. Karena itu, penting untuk tidak terlalu lama membuka pintu kulkas agar suhu tetap stabil.

5. Simpan Daging dan Ayam di Freezer

Studi dalam Meat Science Journal menyebutkan pembekuan dalam porsi kecil membantu menjaga tekstur dan meminimalkan kerusakan akibat pembekuan ulang. Jika membeli daging atau ayam dalam jumlah besar untuk persiapan beberapa hari, segera bagi ke dalam porsi kecil sebelum dibekukan. Cara ini memudahkan proses pencairan (thawing) tanpa harus mengeluarkan seluruh stok sekaligus. Gunakan plastik khusus makanan atau wadah tertutup rapat untuk mencegah freezer burn yang dapat memengaruhi kualitas daging.

6. Manfaatkan Metode Penyimpanan Tradisional

Beberapa bahan seperti bawang merah, bawang putih, kentang, dan labu lebih awet jika disimpan di tempat kering, sejuk, dan memiliki sirkulasi udara baik. Hindari menyimpannya di dalam kulkas karena dapat mengubah tekstur dan rasa. Gunakan keranjang terbuka atau wadah berlubang agar udara tetap mengalir dan bahan tidak cepat lembap.

7. Terapkan Prinsip First In, First Out (FIFO)

Agar tidak ada bahan yang terbuang, terapkan prinsip “yang lebih dulu dibeli, lebih dulu digunakan”. Susun bahan makanan berdasarkan tanggal pembelian atau kedaluwarsa. Letakkan stok lama di bagian depan agar lebih mudah terlihat dan segera digunakan.

Pentingnya Kesadaran Selama Ramadhan

Ramadhan identik dengan peningkatan aktivitas memasak dan konsumsi makanan rumahan. Tanpa perencanaan dan penyimpanan yang tepat, potensi pemborosan serta risiko gangguan kesehatan bisa meningkat. Data FAO menegaskan bahwa pengurangan limbah pangan di rumah tangga dapat berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan global. Dalam konteks keluarga, langkah sederhana seperti mengatur suhu kulkas dan memisahkan bahan sesuai jenisnya sudah cukup membantu menjaga kualitas makanan lebih lama. Dengan menerapkan rekomendasi berbasis riset ini, keluarga dapat menjalani Ramadhan dengan lebih efisien, sehat, dan minim pemborosan.

Rekomendasi Berita