Waspada Kentang Menghijau, Tersembunyi Racun Berbahaya
- 24 Feb 2026 10:37 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Kentang adalah bahan makanan pokok yang akrab di dapur rumah tangga Indonesia. Namun, ada satu hal yang sering dipandang sepele: apakah kentang yang kulitnya sudah berubah hijau aman untuk dikonsumsi? Ternyata jawabannya bukan sekadar “boleh atau tidak”. Ada risiko kesehatan yang serius yang perlu diketahui oleh setiap konsumen — dari ibu rumah tangga hingga pelaku usaha kuliner.
Mengapa Kentang Bisa Berubah Menjadi Hijau?
Dilansir dari britannica.com Perubahan warna kulit kentang menjadi hijau bukan sekadar perubahan visual. Ketika kentang terpapar cahaya (misalnya saat disimpan di tempat terang atau ditumpuk berjam-jam), tumbuhan ini memproduksi pigmen klorofil sebagai respons lingkungan. Meskipun klorofil itu sendiri tidak berbahaya, perubahan hijau ini menandakan peningkatan zat kimia berbahaya lain yaitu glycoalkaloid, terutama solanine dan chaconine. Dikutip dari salah satu Jurnal Ilmiah yang terdaftardi ScienceDirect, Solanine adalah zat yang diproduksi kentang sebagai mekanisme pertahanan alami terhadap hama dan penyakit. Namun bagi manusia, senyawa ini dapat menjadi racun yang merugikan kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah tertentu.
Bahaya Kesehatan: Apa Kata Para Ahli?
Menurut ensiklopedia Britannica, solanine diklasifikasikan sebagai neurotoksin yang dapat menyebabkan gejala keracunan jika dikonsumsi orang dewasa dalam jumlah cukup banyak. Gejalanya meliputi mual, sakit kepala, gangguan neurologis, bahkan kematian pada konsumsi berlebihan.
Dilansir dari Website Akademis Institut Pertanian Bogor, yaitu Tulisan yang dipublish dengan judul Green and Sprouted Potatoes Contain Toxins? This is The Explanation of IPB University Experts. Dr. Andi Early Febrinda salah satu Pakar Keamanan Pangan IPB, menjelaskan bahwa kentang yang hijau atau bertunas mengandung glycoalkaloid dalam jumlah lebih tinggi dan bahwa proses memasak tidak efektif menghilangkan racun ini. Menurut Dr. Andi, bagian hijau dan tunas harus selalu dibuang, karena zat ini dapat menyebar ke seluruh bagian umbi saat direbus bersama. Selain itu, artikel ilmiah dari Journal of Experimental and Basic Medical Sciences menyatakan bahwa dosis solanine sekitar 2–5 mg/kg berat badan dapat menimbulkan gejala keracunan, dan dosis di atas 6 mg/kg dapat berpotensi fatal.
Gejala Keracunan Solanine
Konsumsi kentang hijau atau bagian kentang yang mengandung solanine dapat menyebabkan gejala berikut:
Gejala ringan : mual, muntah, diare, nyeri perut, sakit kepala.
Gejala berat : gangguan neurologis (bingung, tremor atau halusinasi), gangguan pernapasan, bahkan gangguan kardiovaskular pada kasus ekstrem.
Sebuah laporan medis yang dilansir dari pmc.ncbi.nlm.nih.gov bahkan mendokumentasikan kasus dugaan keracunan solanine pada seorang anak 11 tahun setelah memakan kentang hijau mentah, menunjukkan gejala serius yang memerlukan perawatan medis intensif.
Penelitian Ilmiah: Fakta di Balik Warna Hijau
Penelitian klasik dalam Jurnal Food and Chemical Toxicology yang dikutip dari pubmed.ncbi.nlm.nih.gov juga mendukung bahwa konsentrasi α-solanine dan α-chaconine meningkat saat kentang terkena cahaya, meskipun tingkat toksisitasnya dapat bervariasi menurut varietas kentang. Selain itu, kajian dalam Journal of the Science of Food and Agriculture menunjukkan bahwa glycoalkaloid berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan apabila kadarnya sangat tinggi. Meski dalam banyak kasus konsumen akan berhenti makan kentang karena rasa pahit atau tidak tahan, paparan dalam jumlah besar tetap dirasa berbahaya.
Cara Aman Mengonsumsi Kentang
Agar terhindar dari bahaya tersebut, ada beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan:
Simpan kentang di tempat yang gelap, sejuk, dan kering.
Hindari penyimpanan di area yang terkena cahaya langsung.
Kupas tebal bagian yang tampak hijau sebelum diolah.
Buang kentang yang sudah terlalu hijau atau banyak bertunas.
Perubahan warna hijau pada kentang bukan sekadar persoalan tampilan. Kondisi ini bisa menjadi pertanda meningkatnya kadar solanine, senyawa alami yang berpotensi beracun jika dikonsumsi berlebihan. Karena itu, kehati-hatian dalam memilih, menyimpan, dan mengolah kentang menjadi langkah sederhana namun penting demi menjaga kesehatan keluarga.