Mengenal Inferiority Complex, Perasaan Rendah Diri
- 03 Mar 2026 06:59 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Di tengah arus informasi dan perbandingan sosial yang semakin terbuka, sebagian masyarakat kerap mengalami perasaan tidak percaya diri secara berlebihan. Kondisi ini dalam dunia psikologi dikenal sebagai inferiority complex atau kompleks inferioritas, yakni perasaan rendah diri yang mendalam dan terus-menerus.
Dikutip dari https://www.gramedia.com/literasi/inferiority-complex/, istilah inferiority complex pertama kali dipopulerkan oleh psikolog asal Austria, Alfred Adler, yang menyebut bahwa setiap manusia pada dasarnya pernah merasakan inferioritas. Namun, ketika perasaan tersebut tidak dikelola dengan baik, ia bisa berkembang menjadi hambatan dalam kehidupan sosial, karier, maupun relasi personal.
Menurut teori psikologi individual yang dikembangkan Adler, rasa rendah diri sebenarnya dapat menjadi pendorong untuk berkembang. Seseorang yang menyadari kekurangannya akan terdorong untuk memperbaiki diri. Namun, jika perasaan itu berubah menjadi keyakinan bahwa diri tidak berharga, tidak mampu, atau selalu kalah dibanding orang lain, maka kondisi tersebut dapat mengarah pada inferiority complex.
Gejalanya beragam, mulai dari terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain, takut mencoba hal baru karena khawatir gagal, sulit menerima pujian, hingga cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Dalam era media sosial, fenomena ini semakin terasa karena individu sering terpapar pada gambaran kesuksesan dan kebahagiaan orang lain yang belum tentu mencerminkan realitas sepenuhnya.
Para ahli kesehatan mental menekankan pentingnya mengenali sumber perasaan tersebut. Inferiority complex sering berakar dari pengalaman masa kecil, pola asuh yang terlalu keras, perundungan, atau kegagalan yang tidak terselesaikan secara emosional. Oleh karena itu, pendekatan yang tepat bukan dengan menyalahkan diri sendiri, melainkan memahami bahwa setiap individu memiliki keunikan dan proses hidup yang berbeda.
Di lingkungan masyarakat, dukungan sosial memegang peranan penting. Keluarga dan teman dapat membantu membangun kembali kepercayaan diri melalui apresiasi dan komunikasi yang sehat. Sementara itu, individu juga perlu melatih self-compassion atau sikap welas asih terhadap diri sendiri.