Ramadan Bukan Sekadar Tren tapi Ruang Edukasi Diri

  • 24 Feb 2026 13:52 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan – Fenomena "Ramadan Kalcer" di kalangan Generasi Z seringkali hanya menyentuh permukaan tanpa memahami esensi hukum Islam yang mendasar. Dalam dialog spesial di RRI Tarakan, Ustaz Dr. Fahmi Syam membedah bagaimana anak muda seharusnya tidak hanya mengejar popularitas konten, tetapi juga memperdalam literasi agama. Sudut pandang ini menekankan bahwa keberhasilan Ramadan seorang pemuda diukur dari sejauh mana ia memahami prioritas antara ibadah wajib dan sunah, bukan dari seberapa estetik unggahan ibadah di akun media sosial mereka.

Salah satu poin edukasi yang krusial adalah pemahaman mengenai prioritas salat bagi remaja yang sering "nongkrong" di masjid. Ustaz menyoroti adanya salah kaprah di mana banyak Gen Z sangat antusias mengejar salat tarawih namun justru mengabaikan salat Isya yang merupakan kewajiban utama. Beliau mengibaratkan fenomena ini seperti seseorang yang lebih memilih ikan teri kecil dan membuang ikan besar yang jauh lebih berharga. Memahami hierarki ibadah adalah bentuk kedewasaan berpikir yang harus dimiliki oleh generasi muda Muslim saat ini.

Lebih jauh, literasi mengenai hutang puasa dan fidyah juga menjadi bahasan penting yang sering kali membingungkan anak muda di internet. Ustaz Fahmi menjelaskan secara detail bahwa bagi mereka yang memiliki hutang puasa bertahun-tahun karena sakit atau alasan syar’i lainnya, terdapat kewajiban ganti (qadha) dan denda (fidyah). Edukasi praktis ini sangat membantu Gen Z agar tidak hanya mengikuti pendapat simpang siur di dunia maya, melainkan memiliki panduan yang jelas dalam menuntaskan kewajiban spiritual yang sempat tertunda.

Aspek kejujuran dalam beribadah juga menjadi sorotan tajam dalam sudut pandang edukasi ini. Puasa disebut sebagai satu-satunya ibadah yang paling terhindar dari sifat ria atau pamer karena sifatnya yang rahasia antara manusia dengan Tuhannya. Anak muda diingatkan bahwa meskipun mereka bisa membohongi orang lain dengan tampilan fisik yang tampak lemas saat berpuasa, Tuhan mengetahui setiap tetes air yang tertelan saat wudu. Kejujuran batin inilah yang ingin dibentuk sebagai pondasi karakter Generasi Z yang berintegritas.

Ustaz juga memberikan perspektif mengenai pemanfaatan teknologi, seperti tren membaca Al-Qur'an melalui teks latin bagi yang belum lancar berbahasa Arab. Sudut pandang edukasi ini mendorong anak muda untuk tidak cepat berpuas diri dengan cara instan, melainkan menjadikan Ramadan sebagai waktu untuk kembali belajar membaca Al-Qur'an secara benar. Beliau menekankan bahwa kemudahan teknologi seharusnya menjadi sarana akselerasi pembelajaran, bukan alasan untuk memaklumi ketidakmauan dalam mempelajari bahasa asli kitab suci mereka sendiri secara mendalam.

Hubungan antarmanusia dan etika pergaulan, termasuk masalah pacaran di bulan Ramadan, turut dibahas secara lugas namun tetap merangkul. Ustaz Fahmi menjelaskan bahwa esensi Ramadan adalah latihan mengontrol hawa nafsu, sehingga sangatlah kontradiktif jika seseorang "memutus" hubungan sementara hanya demi Ramadan lalu kembali lagi setelahnya. Pesan edukasi ini mengajak Gen Z untuk berani mengambil keputusan yang prinsipil dalam hidup, yakni menjaga kehormatan diri tidak hanya saat bulan puasa, tetapi secara konsisten di bulan-bulan lainnya.

Kesimpulan dari perspektif edukasi ini adalah bahwa Ramadan harus menjadi "laboratorium" pengetahuan bagi Generasi Z untuk memperbaiki kualitas diri secara menyeluruh. Dengan memahami tata cara ibadah yang benar dan landasan hukumnya, anak muda tidak akan mudah terombang-ambing oleh tren yang dangkal. Ramadan yang sukses bagi Gen Z adalah ketika mereka berhasil mengintegrasikan kecerdasan digital dengan pemahaman agama yang kuat, sehingga mampu menjadi individu yang tidak hanya keren secara konten, tetapi juga berbobot secara karakter. (ADR)

Rekomendasi Berita