Kuntau Bawot: Upaya Suku Tidung Tarakan Jaga Tradisi Bela Diri Leluhur

  • 27 Feb 2026 14:22 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Suku Tidung di Kalimantan Utara memiliki warisan bela diri yang unik bernama Kuntau, khususnya aliran Kuntau Bawot. Seni bela diri ini bukan sekadar teknik bertarung, melainkan identitas kultural yang sarat akan makna filosofis. Dalam sebuah dialog budaya, para pengurus perguruan Kuntau Bawot memaparkan pentingnya melestarikan tradisi ini di tengah gempuran modernisasi.

Muhammad Zulfia Ibrahim, pengurus perguruan Kuntau Bawot, menjelaskan bahwa "Kuntau" memiliki arti mendalam, yakni terbentuknya kodrat dan iradat Allah, sementara "Tawu" bermakna tawadhu atau rendah hati. Nama "Bawot" sendiri melambangkan ikatan atau rangkulan persaudaraan dari berbagai pelosok yang menyatu.

Secara historis, Kuntau lahir dari kebutuhan nenek moyang suku Tidung untuk membela diri sebelum adanya hukum negara yang mapan. Bela diri ini muncul secara spontan dalam situasi peperangan antar suku sebagai metode pertahanan diri yang praktis dan efektif di lapangan.

"Keunikan Kuntau Bawot terletak pada karakternya yang sangat defensif namun mematikan. Berbeda dengan silat yang mungkin menunggu serangan, Kuntau Bawot mengajarkan untuk langsung menyerang balik saat musuh menyerang. Tipikal permainannya adalah menghindar dan membalas serangan berkali-kali jika terkena satu kali pukulan,"Ungkapnya.

Terdapat 10 jurus utama dalam Kuntau Bawot, mulai dari Kelembawot sebagai kembangan pertama hingga Cengkek yang merupakan tingkatan tertinggi. Setiap jurus memiliki filosofi sendiri, seperti Kalam Tanah yang menggunakan hentakan kaki ke bumi sebagai simbol kesiapan dalam menghadapi lawan.

Saat ini, tantangan terbesar adalah rendahnya minat generasi muda akibat ketergantungan pada gadget. Pengurus perguruan mengakui bahwa jumlah anggota aktif mulai berkurang. Oleh karena itu, mereka gencar melakukan pendekatan personal kepada anak-anak usia sekolah agar mau mempelajari warisan ini.

Pemerintah daerah pun mulai memberikan ruang bagi Kuntau Bawot untuk tampil dalam acara-acara besar seperti pekan budaya atau upacara adat. Harapannya, dengan semakin sering tampil di depan publik, Kuntau Bawot dapat tetap eksis dan dikenal secara nasional sebagai kekayaan budaya Nusantara.

Rekomendasi Berita