Inovasi Hijau PLTS Percepat Pengeringan Rumput Laut Tarakan

  • 12 Feb 2026 12:20 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Pusat Studi Energi Universitas Borneo Tarakan (UBT) baru saja memperkenalkan teknologi inovasi hijau terbaru, memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai alat pengering rumput laut. hal tersebut disampaikan Dr.Eng. Linda Sartika, ST, MT, Akademisi Universitas Borneo Tarakan sekaligus pencetus dalam dialog Inspirasi Kita berjaringan Kornus 8 Banjar Nusantaraya dengan tema Inovasi Hijau ditangan Perempuan : Aplikasi PLTSA Sebagai Pengering Rumput Laut.

Menurut Linda, alat ini hadir untuk mengatasi metode penjemuran tradisional yang rentan kontaminasi kotoran yang masih diterapkan para Petani Rumput Laut.

Kalimantan Utara saat ini menduduki peringkat ketiga nasional sebagai penghasil rumput laut terbesar. Namun, masalah higienitas dan cuaca yang tidak menentu seringkali menurunkan kualitas panen para petani lokal. Melalui aplikasi PLTS, masalah tersebut kini memiliki solusi konkret yang ramah lingkungan dan efisien.

"Alat pengering ini bekerja menggunakan delapan unit blower yang digerakkan oleh energi surya dari panel surya. Dengan dimensi 4x3 meter, alat ini mampu menampung satu pikul atau sekitar 50 kilogram rumput laut dalam sekali proses. Hal ini menjadi terobosan besar bagi efisiensi kerja petani pesisir." Jelasnya.

Pencapaian luar biasa terlihat pada efisiensi waktu yang ditawarkan oleh inovasi buatan Dr. Linda ini. Jika pengeringan manual membutuhkan waktu hingga tiga hari, alat ini mampu memangkasnya menjadi hanya enam jam saja. Selain itu, tekstur rumput laut yang dihasilkan menjadi lebih kenyal dan tidak mudah patah.

"Kelebihan utama lainnya adalah sifat alat yang portabel sehingga mudah dipindahkan oleh beberapa orang saja. Meskipun panel surya bersifat statis, unit pengeringnya fleksibel untuk ditempatkan di lokasi yang paling strategis bagi petani. Hal ini sangat membantu mobilitas kerja di kawasan Pantai Amal." Ungkapnya.

Dr. Linda menjelaskan perjalanan inovasi ini tidaklah mudah dan sempat mengalami penolakan proposal pada tahun 2022. Namun, melalui bimbingan pada mahasiswa penerima beasiswa Pertamina Foundation, proyek ini akhirnya berhasil mendapatkan pendanaan dan terealisasi di akhir tahun 2024.

Saat ini, dua unit alat telah diserahkan dan dioperasikan oleh masyarakat di RT 15 Pantai Amal, Tarakan. Respons masyarakat sangat positif, bahkan permintaan unit tambahan mulai berdatangan. Pengembangan tahap selanjutnya akan melibatkan teknologi sensor dan IoT untuk pemantauan jarak jauh.

Rekomendasi Berita