Mengenal Maag, Gerd dan Asam Lambung

  • 31 Jan 2026 19:25 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Maagh, Gerd dan Asam lambung sering di anggap sebagai penyakit yang sama,namun ternyata ketiga kondisi ini memiliki karakteristik yang berbeda.

Menurut dr. Ingolda Nadaa Nabilah, MHPE terdapat perbedaan dari ketiga kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa Maag (Gastritis/Dispepsia), sebenarnya bukan nama penyakit tunggal, melainkan istilah umum untuk kumpulan gejala tidak nyaman di perut bagian atas (kembung, perih, nyeri ulu hati). Secara medis sering merujuk pada radang lambung (gastritis).

Sementara Asam Lambung adalah cairan alami tubuh yang berfungsi memecah makanan. Menjadi masalah jika jumlahnya berlebih atau naik ke area yang tidak semestinya seperti kerongkongan.

Sedangkan untuk GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) yaitu kondisi yang lebih kronis di mana asam lambung sering naik ke kerongkongan karena katup (sfingter) lambung yang sudah longgar. Gejalanya biasanya muncul minimal dua kali seminggu dan mengganggu aktivitas.

Selain makanan pedas seperti seblak dan mie setan serta makanan yang asam, dr. Nadaa menjelaskan bahwa pemicu utama lainnya adalah kafein, alkohol, rokok, dan pola makan yang tidak teratur. Selain itu Stres dan Anxiety (kecemasan) sangat signifikan dalam meningkatkan produksi asam lambung. Kadang masalah lambung muncul bukan karena makanan, tapi karena pikiran. Hal ini juga turut menjadi pemicu ketiga kondisi tersebut.

Untuk penanganan pertama dr Nadaa menjelasakan bahwa boleh menggunakan obat bebas (antasida) untuk kejadian sesekali, namun jika gejalanya berulang atau memburuk, harus segera dikonsultasikan ke dokter.

dr. Nadaa juga menyarankan bahwa bagi penderita maag kronis atau GERD untuk menghindari makan dalam porsi besar sekaligus agar lambung tidak terlalu penuh. Hindari tidur setelah makan, langsung berbaring setelah makan memudahkan asam lambung naik kembali ke kerongkongan.

Bagi penderita ketiga kondisi tersebut dr Nadaa menjelaskan bahwa tetap boleh berpuasa atau diet, namun harus dilakukan dengan perhitungan yang tepat (tidak ekstrem) dan sebaiknya berkonsultasi dengan ahli gizi agar tidak memicu kekambuhan.

Rekomendasi Berita