Penuhi Gizi Seimbang Melalui Kekayaan Pangan Lokal Taraka

  • 03 Feb 2026 13:20 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan – (27 Januari 2026) Tantangan gizi dan ancaman stunting di Kalimantan Utara, khususnya Kota Tarakan, kini menjadi perhatian serius berbagai pihak. Dalam momentum Hari Gizi Nasional, pemerintah setempat terus mendorong masyarakat untuk kembali melirik kekayaan alam daerah sebagai sumber nutrisi utama. Pangan lokal seperti ikan bandeng dan udang dinilai memiliki keunggulan nutrisi yang jauh lebih baik dibandingkan makanan siap saji.

Ketua Persagi DPC Kota Tarakan, Nur Ahmad Kurniawan, mengungkapkan bahwa Tarakan sebenarnya sangat diuntungkan dengan sumber daya laut yang berlimpah. Namun, pola konsumsi masyarakat saat ini justru cenderung menurun terhadap hasil laut karena adanya pergeseran gaya hidup ke arah modernitas. Banyak anak muda yang menganggap mengonsumsi pangan lokal sebagai sesuatu yang tertinggal zaman, sehingga lebih memilih kafe.

Permasalahan stunting di Tarakan sendiri menunjukkan angka yang fluktuatif, namun optimisme tetap terjaga dengan capaian prevalensi yang mulai menurun. Dinas Kesehatan Kota Tarakan mencatat bahwa pola makan sehat harus dikembalikan ke dalam ruang lingkup keluarga sejak dini. Intervensi spesifik terus dilakukan, terutama di wilayah pesisir yang menjadi lokus prioritas karena tantangan sanitasi dan kebiasaan hidup masyarakat setempat.

Ibu Nina Ruslina, seorang Ketua Posyandu, menceritakan pengalamannya dalam menghadapi kebiasaan orang tua yang lebih memilih kepraktisan makanan instan. Minimnya kreativitas dalam mengolah ikan membuat anak-anak cepat merasa bosan dan beralih ke jajanan yang rendah zat gizi. Oleh karena itu, para kader Posyandu kini gencar memberikan edukasi cara mengolah pangan lokal menjadi kudapan modern seperti nugget ikan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan juga menjadi angin segar bagi upaya pemenuhan gizi masyarakat di Tarakan. Program ini tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai penerima manfaat utama. Antusiasme warga terlihat sangat tinggi saat armada pengantar makanan tiba di titik-titik layanan kesehatan masyarakat di tingkat kelurahan.

Selain sebagai pemenuhan nutrisi, pemanfaatan pangan lokal dalam program pemerintah ini juga bertujuan untuk membangkitkan sektor ekonomi UMKM dan nelayan lokal. Sinergi antara ahli gizi dan penyedia layanan makanan memastikan setiap porsi yang disalurkan memenuhi standar angka kebutuhan gizi yang ditetapkan. Hal ini diharapkan mampu mengubah paradigma bahwa makanan sehat tidak selalu identik dengan harga yang mahal.

Dinas Kesehatan juga menyoroti faktor lain di luar makanan yang mempengaruhi status gizi, seperti paparan asap rokok dan kualitas sanitasi lingkungan. Pernikahan dini dan rendahnya tingkat pendidikan orang tua turut menjadi variabel yang memicu munculnya kasus gizi buruk pada balita. Pendekatan secara humanis melalui penyuluhan langsung ke rumah-rumah warga menjadi strategi utama untuk menyentuh akar permasalahan tersebut.

Menutup dialog tersebut, para pakar menekankan bahwa kesehatan generasi masa depan Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada apa yang dikonsumsi hari ini. Kesadaran untuk membaca label pangan dan membatasi asupan gula, garam, serta lemak menjadi pesan kunci bagi seluruh lapisan masyarakat. Dengan mencintai dan mengonsumsi pangan lokal, masyarakat Tarakan sebenarnya sedang membangun benteng kesehatan yang kuat bagi anak cucu. (Andrey R)

Rekomendasi Berita