Tips Dokter Nada: Manajemen Emosi agar Puasa Tak Mudah Marah

  • 09 Mar 2026 11:11 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Bulan Ramadan sering kali menjadi ujian bagi kesabaran seseorang, di mana rasa lapar dan haus kerap memicu emosi yang tidak stabil. Fenomena "sumbu pendek" atau mudah marah ini menjadi pembahasan utama dalam program KURMA di RRI Tarakan bersama narasumber dr. Ingolda Nadaa Nabiila, MHPE.

Menurut dr. Nada, perasaan sensitif atau mudah marah saat awal puasa adalah hal yang wajar karena tubuh sedang melakukan adaptasi. Penurunan kadar gula darah dalam tubuh secara medis memang memicu kondisi yang membuat seseorang lebih mudah tersinggung atau irritable.

Namun, dr. Nada menjelaskan bahwa setelah memasuki pertengahan Ramadan, seharusnya tubuh sudah mulai beradaptasi dengan pola makan yang baru. Manajemen emosi menjadi kunci utama agar manfaat puasa dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis dapat tercapai secara maksimal.

"Faktor kurang istirahat juga menjadi pemicu utama emosi meledak-ledak selama berpuasa. Pola tidur yang berubah karena harus bangun sahur sering kali membuat otak kekurangan waktu istirahat, sehingga kontrol diri menjadi lebih lemah dari biasanya," Jelasnya.

Untuk mengatasinya, dr. Nada menyarankan teknik pernapasan sederhana sebagai jeda sebelum bereaksi terhadap provokasi. Menarik napas dalam selama empat detik dan menghembuskannya perlahan dapat membantu mengalirkan oksigen ke otak dan menenangkan pikiran.

Selain itu, asupan makanan saat sahur sangat berpengaruh pada kestabilan emosi di siang hari. Mengonsumsi protein dan karbohidrat kompleks sangat disarankan karena jenis makanan ini lebih lama dicerna dan menjaga kadar gula darah tetap stabil.

dr. Nada menekankan bahwa puasa bukan hanya latihan fisik menahan lapar, tetapi juga latihan psikologis. Menjaga ketenangan mental selama Ramadan diharapkan dapat membentuk karakter yang lebih sabar bahkan setelah bulan suci ini berakhir.

Rekomendasi Berita