Napak Tilas Nastar Si Kue Lebaran

  • 03 Feb 2026 02:01 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Kue kering nastar merupakan salah satu sajian yang identik dengan perayaan hari besar di Indonesia, khususnya saat Idulfitri dan Natal. Meski telah menjadi bagian dari budaya kuliner Nusantara, sedikit yang mengetahui bahwa nastar memiliki akar sejarah dari pengaruh kuliner Eropa yang masuk ke Indonesia pada masa kolonial.

Sejarah mencatat, nastar berasal dari kata bahasa Belanda ananas yang berarti nanas dan taartjes yang berarti kue tart kecil. Pada abad ke-19, masyarakat Eropa, khususnya Belanda, membuat kue tart berisi buah untuk menyesuaikan dengan ketersediaan bahan lokal di Hindia Belanda. Karena apel dan ceri sulit ditemukan, buah nanas yang melimpah di wilayah tropis kemudian digunakan sebagai isian.

Dalam perkembangannya, resep kue tart ala Eropa tersebut mengalami adaptasi oleh masyarakat lokal. Tekstur kulit kue dibuat lebih kering agar tahan lama, sehingga cocok disajikan sebagai kue kering. Nastar kemudian berkembang menjadi kue berukuran kecil dengan isian selai nanas, yang mudah disimpan dan disajikan dalam berbagai perayaan.

Hingga kini, nastar telah menjadi salah satu ikon kuliner Indonesia. Meski berawal dari pengaruh budaya asing, kue ini telah bertransformasi dan diterima luas sebagai bagian dari tradisi kuliner nasional, mencerminkan proses akulturasi budaya yang terjadi sejak masa kolonial hingga era modern. Sebentar lagi Lebaran, jangan lupa sediakan nastar. Kalau nggak, bukan lebaran namanya. RV

Rekomendasi Berita