Peluncuran Perahu Bercadik Merawat Ingatan Maritim Kei
- 09 Feb 2026 17:20 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur - Di pesisir Ohoidertawun, Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, laut kembali menjadi panggung ingatan. Rangkaian budaya yang mempertemukan perjalanan manusia modern dengan warisan maritim Austronesia yang telah hidup ribuan tahun di Kepulauan Kei digelar di kompleks Vila Manoa Kei, Sabtu (7/2/2026).
Peristiwa ini diawali dengan konferensi pers yang berlangsung pukul 14.00 hingga 16.00 WIT, dihadiri jurnalis serta perwakilan media. Forum tersebut menjadi ruang penyampaian informasi resmi mengenai kedatangan Louis Margot, proyek pelayaran Human Impulse, serta rangkaian pertemuan budaya yang menyertainya. Namun, yang ditawarkan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan narasi tentang identitas, laut, dan cara manusia Kei memaknai kedatangan tamu.
Usai konferensi pers, dua perahu bercadik tradisional diluncurkan ke laut. Peluncuran ini menjadi simbol kesinambungan jalur maritim leluhur, sebuah pengingat bagi masyarakat Kei, laut bukan batas wilayah, melainkan jalur hidup. Malam harinya, Manoa Kei menjadi ruang pertemuan komunitas yang diisi dengan musik, tarian, bunyi gong dan tifa, serta kehadiran lebih dari 30 musisi dan penjaga budaya dari berbagai penjuru Kepulauan Kei.
Rangkaian kegiatan tersebut juga membuka ruang refleksi bersama. Diskusi-diskusi informal berlangsung mengenai seni menerima dan menyambut tamu sebagai tindakan budaya, bukan transaksi ekonomi semata. Di sini pula dibicarakan dampak negatif pariwisata massal, serta upaya mencari bentuk perjalanan yang tetap menghormati adat, alam, dan masyarakat lokal bagaimana berwisata tanpa terjebak pada eksploitasi dan kehilangan makna.
Inisiatif peluncuran dua perahu layar tanpa mesin ini datang dari Maria, seorang warga negara asing yang telah menetap di Kepulauan Kei sejak 2019. Kecintaannya pada budaya Kei mendorongnya untuk menghidupkan kembali tradisi perahu layar tradisional yang perlahan ditinggalkan. Maria bahkan turun langsung ke desa-desa, menelusuri jejak budaya, sekaligus mencari jenis kayu yang sesuai untuk pembuatan perahu bercadik.
“Kita harus kembali ke nilai-nilai budaya sebelumnya. Lebleb atau perahu ini harus kita jaga, tidak perlu menggunakan mesin karena tidak sesuai dengan budaya kita. Pelestarian tradisi tidak harus berseberangan dengan pariwisata, selama keduanya berjalan dalam prinsip saling menghormati,” ujar Maria.

Maria, seorang warga negara asing yang telah menetap di Kepulauan Kei sejak 2019. (Foto: RRI/Irine Hari Cahyani).
Manoa Kei sendiri berdiri sebagai ruang hospitalitas budaya yang unik. Terletak di Ohoidertawun, kawasan ini memaknai menyambut tamu sebagai proses transmisi nilai, bukan sekadar layanan komersial. Hospitalitas berakar pada penghormatan terhadap adat, perlindungan lingkungan laut, serta pelestarian keterampilan tradisional yang diwariskan lintas generasi.
Di Pulau Kei, laut menyatu dengan identitas. Terumbu karang, hutan mangrove, irama gong dan tifa, tradisi pembuatan perahu, jejak ingatan yang hidup dalam tuturan masyarakat mencerminkan kebudayaan di mana navigasi dan kehidupan tidak terpisahkan. Di sekitar Vila Manoa Kei, tebing dan ceruk batu Ohoidertawun menyimpan lukisan batu kuno siluet manusia, simbol-simbol abstrak, dan kemungkinan representasi perahu yang dikaitkan dengan kehadiran awal masyarakat Austronesia di wilayah ini.
Lukisan-lukisan itu menandai pesisir Kei sebagai ruang persinggahan dan transmisi sejak masa prasejarah, jauh sebelum batas-batas administratif modern ada. Dengan demikian, Manoa Kei berdiri di dalam lanskap hidup tempat lingkungan, ingatan, dan budaya saling bertaut, menghubungkan praktik hospitalitas masa kini dengan kesinambungan manusia yang telah berlangsung ribuan tahun.
“Di Kei, laut bukan hanya ruang alam, tetapi ruang pengetahuan dan ingatan. Setiap perahu membawa cerita tentang bagaimana manusia belajar hidup berdampingan dengan alam. Kalau kita ingin berbicara tentang masa depan pariwisata dan budaya, maka kita harus berangkat dari cara leluhur menjaga keseimbangan, bukan menggantikannya dengan mesin dan kecepatan,” kata Maria.
Secara geografis, Kepulauan Kei menempati posisi strategis di gugusan Maluku. Pada musim timur, angin pasat timur yang stabil serta arus permukaan yang mengalir ke barat menciptakan kondisi alami yang menguntungkan bagi navigasi menuju Asia Tenggara. Realitas iklim ini menggemakan sejarah migrasi Austronesia, ketika para pelaut membaca angin, bintang, dan pola samudra untuk menghubungkan pulau-pulau yang berjauhan.
Dalam konteks itulah, peluncuran dua perahu bercadik di Manoa Kei menjadi lebih dari sekadar acara budaya. Ia adalah pengingat bahwa perjalanan, laut, dan identitas adalah satu kesatuan. Bahwa di Kei, modernitas tidak harus memutus ingatan, melainkan bisa berdialog dengan warisan maritim yang masih hidup dan terus dijaga.