Virus Nipah, Wisata Goa Ngerong Diminta Jaga Kebersihan
- 05 Feb 2026 16:09 WIB
- Tuban
RRI.CO.ID, Tuban - Menyusul ditemukannya kasus virus Nipah pada kelelawar di Indonesia, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Tuban mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya bagi pedagang dan pengunjung di kawasan Wisata Goa Ngerong Tuban.
Imbauan tersebut disampaikan mengingat Goa Ngerong merupakan habitat alami ribuan kelelawar yang bergelantungan di dinding gua, sehingga berpotensi menimbulkan risiko penularan penyakit apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Dinkes P2KB Kabupaten Tuban, Ratna Sari, menekankan pentingnya penerapan prinsip kebersihan dan keamanan pangan bagi para pedagang di sekitar lokasi wisata.
Ia mengingatkan agar makanan yang dijual senantiasa dijaga higienitasnya dengan cara ditutup rapat. “Seperti makanan gorengan itu bisa ditutup rapat agar tidak terkontaminasi air liur, urine, maupun kotoran kelelawar,” ujarnya, Kamis, 5 Februari 2026.
Ratna menjelaskan, gejala awal infeksi virus Nipah umumnya ditandai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, serta nyeri tenggorokan. Pada fase lanjutan, kondisi dapat memburuk menjadi pusing berat, penurunan kesadaran, pneumonia berat, sesak napas, hingga kejang-kejang.
“Virus Nipah memiliki tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) yang cukup tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen. Artinya, dari setiap 100 orang yang terinfeksi, sekitar 40 hingga 75 orang berpotensi meninggal dunia,” jelasnya.
Diketahui, virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang berasal dari kelelawar buah dan dapat menular ke hewan lain, bahkan ke manusia. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan seperti air liur, urine, darah, dan kotoran.
Selain itu, risiko penularan juga dapat berasal dari konsumsi buah yang telah digigit kelelawar, mengonsumsi daging hewan yang terinfeksi dan tidak dimasak hingga matang, termasuk daging babi, serta melalui kontak dengan manusia yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi cairan tubuhnya.