Sego Berkat Diusulkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda Gunungkidul

  • 28 Feb 2026 07:54 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Gunungkidul - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Kundha Kabudayan Gunungkidul pada tahun ini mengajukan Sego Berkat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Kuliner tradisional ini dinilai sarat nilai budaya, memiliki makna filosofis mendalam, serta telah diwariskan lintas generasi.

Analis Warisan Budaya Kundha Kabudayan, Hadi Rismanto menyebut, wilayah Kabupaten Gunungkidul masih memegang kuat tradisi seperti rasulan, kenduri, dan slametan. Dalam berbagai upacara tersebut, Sego Berkat menjadi salah satu sajian utama yang tidak terpisahkan.

“Dalam tradisi rasulan maupun slametan, Sego Berkat biasanya berisi nasi tumpeng atau nasi dalam tenong, lauk pauk, bihun, oseng cabai hijau, srundeng, hingga kerupuk. Selain itu dilengkapi jajanan pasar, buah, serta kolak apem dan ketan. Sajian ini mengandung nilai luhur seperti toleransi, kasih sayang, gotong royong, kerukunan, keramahan, hingga saling menghargai,” ujarnya, Sabtu, 28 Februari 2026.

Hadi menambahkan, keunikan lain terletak pada pembungkusnya yang masih tradisional, yakni menggunakan daun jati. Selain memberi aroma khas, bahan alami ini juga ramah lingkungan dan menjadi ciri kuat kuliner Gunungkidul.

“Keberagaman filosofi dan kekhasan tersebut menjadi alasan kuat pemerintah daerah mengusulkan Sego Berkat sebagai WBTB. Harapannya, kuliner ini tetap lestari dan terus dikenal masyarakat luas,” katanya.

Jika dahulu Sego Berkat hanya dijumpai saat hajatan seperti rasulan atau kenduri, kini makanan ini mulai berkembang secara komersial. Dalam lebih dari satu dekade terakhir, banyak pelaku UMKM menjual Sego Berkat dengan kemasan menyerupai berkat tradisional.

Menu yang dijual umumnya berupa nasi putih dengan pelengkap seperti oseng tempe cabai hijau, bihun, srundeng, serta lauk ayam, empal, telur, jeroan, hingga tahu tempe bacem.

Ketua PHRI Gunungkidul, Sunyoto yang dikenal sebagai pelopor usaha Sego Berkat mengatakan, dirinya mulai mempopulerkan kuliner ini sejak 2014. Ia ingin mengangkat kembali tradisi lama yang mulai ditinggalkan masyarakat.

“Perubahn pola hajatan yang kini banyak menggunakan jasa katering dan digelar di gedung membuat tradisi berbagi Sego Berkat kian jarang ditemui. Di sisi lain, banyak perantau merindukan makanan khas ini karena sulit ditemukan di luar daerah,” ucapnya.

Berangkat dari kondisi tersebut, Sego Berkat kemudian dikembangkan sebagai menu komersial dan mendapat respons positif pasar. Kini semakin banyak pelaku usaha yang ikut menjualnya.

Dengan diusulkannya Sego Berkat sebagai Warisan Budaya Tak Benda, diharapkan kuliner ini semakin dikenal sebagai ikon khas Gunungkidul, baik oleh wisatawan, perantau, maupun masyarakat umum.

Rekomendasi Berita