Menikmati Kelapa Bakar Rempah Subulussalam Tawarkan Sensasi Kehangatan Tubuh

  • 07 Mar 2026 22:40 WIB
  •  Aceh Singkil

RRI.CO.ID, Subulussalam : Di sudut Taman Kehati, Desa Belegen, Kecamatan Simpang Kiri, aroma rempah dan asap pembakaran kelapa menjadi penanda kehadiran kuliner khas. Di tangan Rani Mardianti dan suaminya, buah kelapa yang lazimnya disajikan dingin, disulap menjadi minuman herbal hangat yang diburu masyarakat Kota Subulussalam hingga daerah tetangga, Sabtu 7 Maret 2026.

Proses pembuatan kelapa bakar ini bukan perkara instan. Rani memilih kelapa muda atau setengah tua yang masih utuh untuk dibakar di atas bara api dalam drum besi. Proses pemanasan ini berlangsung cukup lama, memakan waktu antara satu hingga empat jam, hingga tempurung luarnya menghitam legam dan air di dalamnya terinfusi saripati rempah.

Setelah matang, tempurung dibuka untuk kemudian diracik dengan campuran rempah pilihan. Irisan jahe, serai, cengkeh, dan kayu manis dimasukkan ke dalam air kelapa yang hangat, lalu disempurnakan dengan manisnya gula aren. Perpaduan ini bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan ramuan herbal yang diyakini berkhasiat menjaga kebugaran tubuh.

Memasuki bulan Ramadan 1447 H, dinamika pasar pun terasa berbeda. Rani mencatat bahwa selama bulan puasa ini, pembeli lebih banyak mencari kelapa muda biasa untuk berbuka. Namun, ia tidak khawatir karena kelapa bakar tetap memiliki basis penggemar setia yang mencari khasiat kesehatan di baliknya.

"Penjualan kelapa muda memang lebih banyak peminatnya dari pada kelapa bakar, namun permintaan kelapa bakar tetap ada karena kelapa bakar menjadi obat herbal dengan campuran rempah-rempahnya," ujar Rani saat ditemui di lapak dagangannya.

Daya tarik racikan ini terbukti mampu melampaui batasan geografis kota. Tak jarang, pelanggan yang datang tidak hanya berasal dari warga sekitar Subulussalam saja, melainkan juga dari Kabupaten Aceh Singkil yang rela menempuh perjalanan demi menikmati sensasi unik kelapa bakar rempah ini.

Untuk menikmati satu porsi kelapa bakar penuh khasiat ini, Rani mematok harga Rp15 ribu per buah. Sementara bagi pelanggan yang menginginkan kesegaran kelapa muda biasa, cukup merogoh kocek antara Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per buah, harga yang cukup bersahabat bagi warga.

Ketekunan Rani dalam berdagang bukan datang dari kemarin sore. Ia dan suaminya telah merintis usaha ini selama enam tahun. Sebelum menempati lokasi strategis di Taman Kehati saat ini, mereka sempat dikenal berjualan di kawasan persimpangan SMP Unit Subulussalam, Kecamatan Simpang Kiri, yang menjadi titik awal perjalanan bisnis mereka.

Rekomendasi Berita