Bodewin: Pandangi Perbedaan Sebagai Kekuatan, Bukan Pemecah Belah
- 12 Feb 2026 22:44 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Pemerintah Provinsi Maluku menggelar Seminar Penguatan Karakter Bangsa guna mendukung misi Asta Cita melalui semangat hidup "Orang Basudara". Kegiatan yang mengusung pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) ini berlangsung di Kantor Gubernur Maluku pada Kamis, 12 Februari 2026.
Seminar ini dibuka secara resmi oleh Sekda Maluku, Sadali Ie, mewakili Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa. Hadir pula Penjabat Walikota Ambon Bodewin Wattimena, Direktur Institut Leimena Matius Ho, serta jajaran pemangku kepentingan pendidikan lainnya.
Dalam sambutannya, Walikota Ambon Bodewin Wattimena menekankan bahwa identitas lokal seperti Pela Gandong tidak boleh berhenti pada pemahaman sejarah semata. Ia mendorong agar nilai-nilai leluhur tersebut ditransformasikan dalam kehidupan nyata untuk menangkal polarisasi sosial.
"Kita semua dituntut bekerja bersama memastikan bangsa ini terjaga. Perbedaan harus dipandang sebagai kekuatan. Literasi ini bukan mencampuradukkan pemahaman agama, melainkan mewariskan persaudaraan agar tidak tumbuh tanpa arah," kata Bodewin.
Senada dengan hal tersebut, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekda Sadali Ie, menyebutkan bahwa semangat orang basudara adalah jati diri Maluku yang selaras dengan visi besar Asta Cita.
"Melalui pendekatan literasi yang inklusif, saya berharap akademisi, tokoh agama, dan para peserta dapat menjadi juru kampanye perdamaian di tengah masyarakat," kata Gubernur.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku, Sarlota Singerin, melaporkan bahwa seminar ini merupakan kolaborasi bersama Institut Leimena dan Yayasan Sombar. Peserta terdiri dari 150 orang yang meliputi kepala sekolah, guru, dan alumni LKLB.
"Tujuannya jelas, kita ingin membangun Maluku sebagai laboratorium orang basudara melalui sekolah. Kami ingin peserta membawa pulang praktik baik yang bisa langsung diadaptasi di lingkungan pendidikan masing-masing," ujar Sarlota.
Direktur Institut Leimena, Matius Ho, menambahkan bahwa literasi keagamaan lintas budaya kini telah diterima secara luas, bahkan di tingkat ASEAN. Ia berharap kegiatan ini menghasilkan langkah konkrit untuk memperkuat kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.