Keterbatasan Tidak Membatasi Menyebarkan Kasih tanpa Batas

  • 11 Mar 2026 07:09 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Bagaimana rasanya menjalani hidup dengan keterbatasan penglihatan, namun tetap menebarkan kasih tanpa batas bagi orang lain? Itulah yang dijalani Ibu Pendeta Yohana Maitimu, seorang pendeta di Gereja Protestan Maluku dengan Disabilitas Penglihatan.

Dalam bincang santai di program Siniar yang dipandu Presenter Tio Nugroho, Ibu Pendeta Yohana membagikan perjalanan hidupnya yang penuh tantangan, mulai dari ujian masuk perguruan tinggi Fakultas Teologi hingga kesulitan ekonomi. Namun, ia menegaskan, kasih Tuhan selalu hadir dan memberi jalan, bahkan ketika manusia merasa tak berdaya.

Sejak SMA, Ipen Yo begitu sapaan akrabnya, sudah merasakan panggilan untuk melayani di bidang Teologi. Namun, hambatan penglihatan dan keterbatasan ekonomi sempat membuatnya ragu. “Saya pernah menangis di kamar, takut tidak bisa diterima kuliah. Tapi saya belajar bahwa Tuhan selalu memiliki cara untuk melayakkan saya,” kenangnya.

Ternyata, jawaban atas doanya datang melalui jalur yang tak terduga. Selain lulus ujian masuk kuliah, Ipen juga meraih juara tiga dalam lomba nyanyi tingkat nasional di Makassar. Hadiah lomba tersebut menjadi bantuan finansial untuk biaya kuliah. “Dua doa sekaligus terjawab,” ucap Ipen sambil tersenyum.

Sesuai topik perbincangan Menyebarkan Kasih tanpa Batas, Bagi Ipen, kasih tanpa batas bukan sekadar kata-kata, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. “Kasih itu menular. Kita harus tetap menebar kebaikan walaupun orang lain tidak membalas dengan baik. Jangan berhenti menjadi orang baik hanya karena orang lain jahat,” jelasnya.

Lebih dari sekadar pengalaman pribadi, ia juga menekankan pentingnya pelayanan gereja yang inklusif. Menurutnya, setiap jemaat, tanpa memandang suku, ras, usia, atau kondisi fisik, berhak mendapatkan perhatian dan dukungan. Bahkan gereja di Maluku kini menyediakan akses dan dukungan khusus bagi penyandang disabilitas, menegaskan bahwa inklusivitas dan kasih bisa berjalan seiring aturan agama.

Kisah Ibu Pendeta Yohana bukan hanya tentang perjuangan, tapi juga tentang menjadi berkat bagi orang lain. Ipen menambahkan, pengalaman hidup dan panggilan pelayanan mengajarkannya bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menebar kasih. Bahkan, melalui keterbatasan itu, ia mampu menunjukkan bahwa kasih Tuhan itu nyata, inklusif, dan tak terbatas.

Dalam refleksi teologisnya, Ipen menegaskan bahwa setiap ciptaan Tuhan sempurna dan memiliki peran untuk membawa kebaikan. “Melalui mata iman, saya melihat kasih Tuhan dalam setiap langkah. Saya bisa berdiri teguh meski berjalan dalam kegelapan, karena iman yang kuat membuat saya mampu menjadi agen perubahan,” ujarnya.

Melalui episode Podcast inspiratif ini, Ibu Pendeta Yohana mengajak semua orang, khususnya generasi muda, untuk mempraktikkan kasih dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi terang bagi sesama sekalipun banyak tantangan

“Setiap orang bisa menjadi cahaya bagi lingkungan sekitarnya. Dengan kasih, kita bisa menyebarkan kebaikan dan membuat hidup lebih berarti bagi banyak orang,” tuturnya.

Rekomendasi Berita