Perjuangan Masyarakat Terluar Maluku Meraih Hak Belajar

  • 03 Mar 2026 08:18 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Pendidikan adalah kunci membuka pintu masa depan generasi muda, namun bagi masyarakat di daerah terluar, meraih itu bukan hal yang mudah. Di pelosok seperti pulau-pulau terpencil di Maluku atau daerah terpencil lainnya di Indonesia, berbagai tantangan menjadi hambatan utama dalam upaya mengakses layanan pendidikan yang layak.

Ketua komisi I DPRD Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) Korneles Tuamain, kepada RRI beberapa waktu lalu di salah satu hotel di Kota Ambon Mengatakan, tantangan yang dihadapi adalah keterbatasan Akses Infrastruktur, jarak tempuh yang jauh, kondisi jalan yang buruk, dan kurangnya transportasi yang aman membuat banyak anak sulit mencapai sekolah.

Di beberapa daerah kepulauan, anak-anak harus berjalan kaki puluhan kilometer meski dalam cuaca yang tidak mendukung hanya untuk datang ke kelas. Kekurangan tenaga pendidik yang enggan ditempatkan di daerah terpencil akibat kurangnya fasilitas pendukung seperti tempat tinggal, akses listrik, dan jaringan komunikasi juga menjadi penyebab menurunnya kualitas pembelajaran yang tidak merata

"Sebagai anak daerah, saya sangat prihatin melihat persoalan yang dihadapi masyarakat terluar khususnya di kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Masalah Ekonomi Keluarga di daerah terluar yang hanya bergantung pada mata pencaharian seperti pertanian atau perikanan yang tidak menjanjikan penghasilan tetap. Akibatnya, anak-anak sering diminta membantu pekerjaan rumah tangga atau mencari nafkah dibandingkan bersekolah," ujarnya.

Kurangnya fasilitas sekolah di daerah terluar juga perlu diparhatikan karena banyak yang tidak memiliki ruang kelas yang layak, perpustakaan, laboratorium, atau akses internet untuk mendukung pembelajaran modern, bahkan hingga saat ini masih ada daerah yang belun memiliki sekolah negeri.

"Bahkan sejak indonesia merdeka hingga saat ini, masih banyak daerah terpencil, terluar di negri ini yang belum memiliki sekolah negeri setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun menghadapi banyak rintangan, masyarakat terluar tidak menyerah. Banyak orang tua dan anak-anak berjuang dengan gigih untuk meraih pendidikan," ucapnya.

Dengan kolaborasi masyarakat untuk membangun dan memperbaiki fasilitas sekolah secara sukarela, serta pemanfaatan teknologi sederhana, dengan dukungan dari pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, beberapa sekolah mulai menggunakan perangkat elektronik sederhana dan konten pembelajaran yang disesuaikan untuk mengatasi keterbatasan akses informasi.

"Beberapa program pemerintah dan organisasi non-pemerintah menjalankan sekolah bergerak atau kelas tatap muka berkala untuk menjangkau anak-anak di daerah yang paling sulit dijangkau," katanya.

Harapan untuk masa depan masyarakat terluar dalam menggapai cuta-cita melalui pendidikan menunjukkan betapa pentingnya hak belajar bagi setiap individu. Dengan dukungan yang lebih besar dari pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat luas, baik dalam bentuk pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas guru, maupun bantuan ekonomi, dipercaya bahwa akses pendidikan yang merata dapat terwujud. Pendidikan yang baik akan menjadi pondasi bagi masyarakat terluar untuk meningkatkan kesejahteraan dan berperan aktif dalam pembangunan bangsa.

Rekomendasi Berita