Mahasiswa Psikologi Ungkap Modus Child Grooming

  • 21 Feb 2026 08:13 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Ryati Bouk, mahasiswa pascasarjana psikologi menyoroti child grooming sebagai proses manipulatif bertahap yang sering luput dari perhatian keluarga. Ia menjelaskan pelaku tidak langsung melakukan kekerasan melainkan membangun relasi emosional demi mendapatkan kontrol terhadap korban.

Ryati mempelajari fenomena chlid grooming atau kekerasan seksual anak ini melalui pendekatan ilmiah psikologi perkembangan anak. Menurutnya, pemahaman teori membantu mengidentifikasi pola manipulasi sehingga pencegahan bisa dilakukan lebih awal oleh orang tua.

Tahap pertama, ujar Ryati adalah targeting ketika pelaku memilih anak kurang perhatian rentan emosional atau minim pengawasan keluarga. Anak yang aktif media sosial tanpa batasan dinilai mudah didekati karena membutuhkan validasi dari lingkungan sekitarnya.

Selanjutnya, pelaku membangun kepercayaan lewat pujian hadiah perhatian intens serta menjadi tempat curhat setiap hari. Bahasa hangat suportif membuat korban merasa dimengerti sehingga perlahan muncul ketergantungan emosional kepada pelaku tanpa disadari.

Setelah kedekatan terbentuk, lanjut Ryati, pelaku memenuhi kebutuhan afeksi validasi lalu mengisolasi korban dari teman keluarga perlahan. Ia menciptakan rahasia bersama agar anak takut bercerita sehingga kontrol sosial dan emosional semakin kuat terhadap korban.

Ryati menyebut pada tahap berikutnya perilaku seksual dinormalisasi melalui candaan kiriman gambar tidak pantas atau ajakan komunikasi privat. Ketika korban ragu, pelaku memakai ancaman rasa bersalah serta gaslighting atau manipulasi psikologis, mempertahankan kekuasaan sepenuhnya terhadap anak.

“Sebagai mahasiswa psikologi saya melihat grooming sebagai strategi sistematis sehingga edukasi keluarga menjadi benteng utama perlindungan,” ujar awardee beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini, saat diwawancara RRI pekan lalu. Ia mengajak sekolah, orang tua, dan remaja meningkatkan literasi digital serta komunikasi terbuka demi mencegah kekerasan sejak dini.

Rekomendasi Berita