Stigma Klenik Masih Hambat Pengobatan TBC di Belu

  • 24 Jan 2026 15:49 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Kepala Puskesmas Kota (Puskot) Atambua, dr. Yeni Tasa, M.Kes, mengungkapkan bahwa stigma terhadap penyakit Tuberkulosis (TBC) kembali menguat ditengah masyarakat Belu, khususnya di wilayah kerjanya. Stigma berdampak pada proses pengobatan penderita, karena TBC kerap dikaitkan praktik klenik atau unsur supranatural.

“Masyarakat kita punya kebiasaan ya, oh ini karena disantet, atau akibat diguna-gunai, bahasa awamnya begitu. Tetapi pada kenyataannya TBC itu bisa disembuhkan dengan menjalankan terapi secara medis atau rutin minum obat,” katanya dalam program Indonesia Sehat, Jumat 23 Januari 2026.

Stigma juga berkembang pada proses pengobatan TBC, Informasi keliru yang beredar di lingkungan sekitar membuat penderita percaya bahwa TBC tidak akan sembuh meski sudah berobat. “Memang terapi obatnya cukup lama ada enam bulan bahkan lebih dan seringkali kambuh, makin diperparah kalau diagnosanya sudah ada komplikasi,” ujarnya.

Eflayer Program Indonesia Sehat RRI Atambua

Padahal, lanjut dr. Yeni, peluang kesembuhan sangat besar jika TBC ditemukan lebih awal dan pasien patuh menjalani pengobatan. “Beda kalau kita temukan lebih awal dengan taat minum obat, banyak yang sembuh kok, tapi kondisi tersebut seringkali tidak disadari oleh pasien maupun keluarga," ucapnya.

“Kadangkala penderita berpikir TBC bukan penyakit, tetapi ada dugaan unsur lain yang berkaitan dengan klenik. Hal seperti inilah seringkali menghambat proses kesembuhan karena penderita memilih berobat ke dukun, dimana kadang semakin memperparah keadaan,” tuturnya.

Dalam penanganan TBC, dr. Yeni menekankan pentingnya penegakan diagnosis yang tepat, melalui proses pemeriksaan, yang memang membutuhkan waktu. “Untuk penanganan TBC perlu ditegakkan diagnosa secara benar agar pemberian obat juga tepat, butuh waktu satu atau dua minggu, untuk pemeriksaan dahak tidak bisa sehari dapat hasilnya,” katanya.

Ia menambahkan, keterbatasan alat juga menjadi tantangan pelayanan di wilayah kerjanya. “Karena alatnya tidak tersedia di seluruh puskesmas di Belu, hanya ada beberapa puskesmas yang sudah punya alat yang namanya TCM. Kemudian apabila hasilnya negatif, kita juga masih lanjutkan lagi dengan pemeriksaan rontgen,” katanya.

Karena itu, dr. Yeni menegaskan bahwa TBC bukan penyakit akibat klenik, melainkan infeksi yang terjadi akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dapat disembuhkan melalui pengobatan medis yang tepat dan tuntas.

Rekomendasi Berita