Duck Syndrome pada Remaja, Tampak Tenang Tapi Tertekan

  • 06 Mar 2026 19:38 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh: Fenomena Duck Syndrome menjadi salah satu isu yang mulai banyak dibicarakan di kalangan remaja. Istilah ini menggambarkan kondisi seseorang yang terlihat tenang dan baik-baik saja di permukaan, tetapi sebenarnya sedang berjuang keras menghadapi tekanan di dalam dirinya.

Hal ini disampaikan oleh praktisi psikologi anak dan remaja, Anita dalam program dialog santai Islami di Radio Republik Indonesia Pro 2 Banda Aceh.

Menurutnya, istilah Duck Syndrome diambil dari gambaran seekor bebek yang tampak tenang saat berenang di atas air. Namun di bawah permukaan air, kakinya terus mengayuh dengan sangat cepat agar tetap mengapung.

“Di permukaan terlihat tenang, terlihat baik-baik saja. Tapi sebenarnya di dalam dirinya mereka sedang berjuang keras menghadapi tekanan,” jelasnya saat diwawancarai RRI pada Kamis 5 Maret 2026.

Ia menilai kondisi ini banyak dialami oleh remaja yang harus memenuhi berbagai tuntutan, baik dari keluarga, lingkungan maupun standar sosial. Banyak di antara mereka yang merasa harus terlihat sukses, kuat, dan tidak boleh menunjukkan kelemahan.

Salah satu contoh yang sering terjadi adalah ketika seorang anak merasa harus mengikuti keinginan orang tua dalam menentukan masa depan, termasuk pilihan pendidikan dan karier. Meskipun terlihat menjalani semuanya dengan baik, sebenarnya mereka menyimpan tekanan yang cukup besar.

“Banyak remaja menjalankan sesuatu bukan karena keinginannya sendiri, tetapi karena merasa harus mengikuti harapan orang tua,” katanya.

Menurut Anita, tekanan yang terus dipendam tanpa ruang untuk bercerita dapat memengaruhi kesehatan mental remaja. Mereka bisa mengalami kesulitan mengenali emosi, bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami stres.

Ia menambahkan, sebagian remaja sering menyembunyikan perasaannya di balik kalimat sederhana seperti “aku tidak apa-apa”.

Padahal, kata-kata tersebut sering kali menjadi bentuk pertahanan diri agar mereka tidak terlihat lemah di hadapan orang lain.

“Untuk mengatakan ‘aku baik-baik saja’ kadang membutuhkan perjuangan besar bagi mereka,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti ini, peran orang tua menjadi sangat penting untuk memahami kondisi emosional anak. Orang tua diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku dan memberi ruang komunikasi yang terbuka.

Selain itu, remaja juga perlu belajar untuk jujur terhadap diri sendiri mengenai perasaan yang mereka alami. Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja merupakan langkah awal untuk mencari dukungan.

“Langkah pertama adalah jujur pada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya dirasakan dan dibutuhkan,” kata Anita.

Ia berharap orang tua dan anak dapat membangun komunikasi dua arah yang lebih sehat, sehingga tekanan yang dialami remaja tidak terus dipendam sendirian.

Rekomendasi Berita